Archive for June, 2005

Jara II

Wednesday, June 29th, 2005

***

Aku, seperti yang pernah kukatakan dulu, pencinta buku, kutu buku. Aku bahkan berniat mendirikan taman bacaan yang tiada duanya dalam koleksinya. Namun aku juga manusia paling egois, taman bacaan itu tak akan pernah ku persembahkan selain untuk diriku. Yah, untuk diriku, tapi mungkin juga untuk si Nyawa. Karena hanya dia yang mampu memahami rasa egoisku. Entah sejak kapan rasa egoisku akan buku muncul, mungkin ketika aku tahu bahwa banyak temanku yg lain yang meminjam bukuku dan mengembalikan dengan keadaan tidak seperti semula, bungkusnya terlipat bahkan sobek dan bertambal sulam selotip. Hanya dia, ya si Nyawa saja yang mengembalikannya dengan kondisi 120 %. Karena selain kondisi bukunya masih bagus, dia juga menambahkan pengaman serta sekali-kali membelikan diriku buku yang jarang ada bahkan jarang di baca, seperti buku “Pergulatan Guru Desa” yang dikarang entah oleh siapa, buku ini jarang dibaca karena telah dilarang oleh pemerintah Bapak Soeharto, dengan alasan isinya sangat komunis. Sebenarnya buku itu cuma bercerita tentang seorang guru yang bergulat dalam belajar ngaji, karena dia malu kalau orang-orang tahu bahwa gurunya yang selama ini mengajarkan ilmu hitung, ilmu alam dan sosial kepada anak-anak desa, ternyata gagap dalam mengaji. Didesa itu banyak yang mengatakan sangat terbelakang dan bodoh, namun banyak yang diantaranya sangat bagus dalam mengaji bahkan beberapa guru agama Islam terkenal, banyak yang mengatakan bahwa desa tersebut adalah surga karena bacaan Al-Quran yang dilafalkan sangat indah. Aku awalnya aneh akan dilarangnya buku ini, namun akhirnya aku sadar, karena buku ini memang pantas dilarang, biar cepat, rezim Bapak Soeharto bilang itu buku komunis. Padahal buku ini menyiratkan bahwa desa yang sangat indah akan bacaan kitab sucinya, lambat laun akan dapat jadi “neraka” karena ilmu hitung, ilmu alam dan sosial yang diajarkan si guru itu. Para murid dan beberapa orang tua, sudah lama meninggal tradisi membaca atau mengaji Al-Quran. Ini semua karena ketidakcakapan si guru dalam mengaji. Memang, aku tahu semua itu berkat bimbingan si Nyawa. Dia bilang, buku seperti itulah yang pantas mendapatkan putlizer. Aneh…aneh… tapi dalam hati terdalamku juga menyetujuinya.

Buku demi buku aku lahap, sekalipun jarang sekali aku ingat apa yang baru aku baca, tapi aku sangat menyukai indahnya dunia yang bisa aku bayangkan pada saat membaca. Begitu pula dengan si Nyawa, dia sangat menghargai buku, bahkan dia berani puasa lama hanya karena dia menghabiskan uang sakunya untuk membeli 100 buku dalam satu bulan. Eh salah, bukan uang saku, lebih tepatnya semua uang tabungannya. Karena buku-buku tersebut tidak hanya dalam bahasa Indonesia, namun juga berbagai bahasa asing baik yang umum maupun yang tidak umum seperti bahasa Chech. Anehnya si Nyawa sangat paham betul isi buku itu dan menceritakan kepadaku beberapa yang paling favorit, termasuk buku “Psiko-analisis” karangan Dr. Razim Scherbe, PhD, seorang dokter ahli penyakit dalam dan anestesi yang juga seorang psikolog khusus menangani cuci otak yang sangat dipuja dikalangan pendukung Nazi serta Blok Timur. Beliau ini memang bukan hanya bekerja untuk mereka, karena buku itu justru di terbitkan di London tahun 1981. Dan beliau bahkan termasuk tim kesehatan 3 keluarga kerajaan di Eropa yang kental blok Baratnya, termasuk tempat dimana bukunya diterbitkan.

Jara, si Nyawa, bercerita bahwa kita harus sadar, dunia ini tidak lain hanya tempat yang penuh kematian dan cinta yang hambar. Ketika kecil, kita selalu disayang dan dimanja orang tua, namun saat remaja banyak orang tua yang berubah baik sedikit seperti mulai melarang banyak hal kepada anaknya sampai yang terparah adalah meredupkan hidup si anak dengan mencabulinya dengan dalih kasih sayang. Lalu dimana pun, pemerintah selalu berbohong pada rakyatnya, bahkan sarangnya penjahat bukan di lorong-lorong sempit, kelam dan bau namun justru di pemerintah yang terang benderang lah biangnya penjahat. Lalu juga kisah tentang anak haram yang semakin lama semakin bertebaran, baik itu dari para pelacur maupun anak baik-baik yang terjerumus sex bebas. Masyarakat masih memberi cap “haram” pada mereka, padahal tak sedikit penjahat kelas kakap justru berasal dari keluarga “ningrat” yang sejarahnya jauh dari “haram”. Namun tetap, mereka bukan anak “haram” karena lahir secara “halal”. Dan bahkan percobaan-percobaan pada anak-anak haram itu dilakukan dibanyak negara baik blok barat, timur maupun non-blok atau fasis dengan beribu alasan seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Mereka hilang nyawa lahiriah maupun batiniyah.

Dalam buku itu juga diterangkan bagaimana mencuci otak seseorang, namun tanpa melakukan serangkaian uji laboratorium yang mahal, cukup dengan berkata, “Aku sangat memahami mu, aku akan terus disisi mu.” Yah, cukup kita berkedok teman yang baik, maka kita dapat mencuci otak seseorang, baik dari keadaan jahat menjadi baik, ataupun sebaliknya. Bukankah itu yang dilakukan para ulama ketika ada seseorang yang berniat untuk tobat, memang menjadi teman sangat efektif merubah seseorang. Namun semua itu hanya isi suatu buku, namun akan menjadi nyata apabila ada seseorang yang mampu menjalankan itu dan menguasainya sekehendak dia tanpa bisa dijerat oleh hukum pidana dimanapun juga. Dalam hal ini Jara, si Nyawa, salah satu masternya.

Tiap hari dia tidak bosan-bosannya mengkuliahi aku dengan nukilan dari buku tersebut. Bahkan dia berani membandingkan buku itu dengan beberapa kitab suci agama di dunia ini, sekalipun dia juga pernah bilang, “Buku itu belum sempurna dan aku yang akan menyempurnakannya dengan korban-korbanku.” Aku selalu merinding bila dia bicara seperti itu, namun aku juga selalu menantikan apalagi yang akan Jara katakan besok. Sepertinya aku menunggu Iblis memaparkan rencana jahatnya bagi umat manusia.

***

Jara

Monday, June 27th, 2005

***

sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan…

***

Tidak terasa, sudah tiga tahun sejak aku lulus pendidikan sarjanaku. Memang aku belum merasakan nikmat atau pahitnya orang kantoran, karena aku hanya hidup di “Jalan”. Aku pernah kerja di kantor baik yang sesuai bidang kuliahku maupun yang tidak. Namun aku akhirnya memilih jalanan sebagai “penghidupan”ku. Semua berjalan lancar, bahkan aku mendapatkan uang yang lebih besar daripada orang yang bekerja di kantoran dengan jujur, tentu yang tidak jujur entah berapa banyak yang dia peroleh, tak terbayangkan. Namun orang tidak jujur pasti akan kehilangan sesuatu yang berharga, sekalipun mereka mendapatkan uang dan pengaruh yang sangat banyak, benar, mereka pasti hilang rasa manusianya. Huh, aku yang hanya hidup di “jalanan” kok bisa berbicara dengan bahasa tinggi. Aku berpikir bahwa ini semua karena dia, ya, dia orang eh salah temanku yang terbaik, namun aku sangat takut akan dirinya. Aku takut karena dalam dirinya ada penjelmaan makhluk yang sangat menakutkan, mungkin inilah yang dinamakan Dajjal.

***

“Hai, kenalkan aku Suad, nama lengkapku Suad Ibrahim, mungkin kalo ditambah nama bapakku, maka Suad Ibrahim bin Said Ibrahim, atau singkatnya SbS, Suad bin Said.”, itulah yang biasa aku ucapkan tiap aku berkenalan, tentunya tidak lupa dengan cengiran bibirku yang mengagumkan (tapi kata orang menjijikan). Dan itulah kata pertamaku kepadanya, teman terbaikku sekaligus makhluk yang paling mengerikan. Temanku itu menjawab, “ Senang berkenalan denganmu SbS, panggil aku Jara. Nama lengkapku Jara Leondro. Nama yang aneh yah…???”. Aku jawab, “ tepat… namamu aneh, dan namaku juga aneh apalagi kalo sudah disingkat, dan boleh khan aku berteman denganmu, yah sesama orang yang bernama aneh…”. “Hahaha… SbS, kamu orang yang sangat riang, aku suka berteman denganmu. Kamu kuliah juga disini? Di bagian apa? Kalo aku kuliah di teknik aku ambil arsitek, kamu?” “ Wah, Jara, sepertinya ucapan dan pertanyaan kali ini adalah rangkaian kata yang terpanjang yang pernah kau ucapkan ke orang yah…??? Abis lihat mukamu yang berubah dari “dingin” menjadi “hangat”. Aneh banget sih kamu… tapi untuk menjawab pertanyaanmu, baiklah, aku kuliah di sipil, hmm… kita ambil jurusan yang sebidang. Eh, kapan-kapan kita ngobrol lagi yah, aku ada kerjaan, biasa tugas menumpuk. Sampai nanti…. Eh, jangan lupa kenalkan aku dengan gadis-gadis arsitek yah… oke, dan keluarkan semuanya.” “Oke, tapi SbS, kamu harus mau jadi teman baikku sekaligus korban pertamaku.” “Apa??? Mana mau aku berkorban demi laki-laki, memangnya homo… sampai nanti Jara…”. Itulah awal aku berteman baik dengan Jara Leondro, atau mungkin lebih baik aku beberkan panggilanku untuknya, Jara si Nyawa. Panggilan ini karena, dia sangat baik dan cakap dalam hal memainkan nyawa orang lain.

***

Aku, menghabiskan banyak waktuku di perpustakaan kampus, toko buku dan taman bacaan serta tidak lupa ditemani teman baikku, si Nyawa. Tiap mengerjakan tugas, kami selalu mengerjakan ditempat-tempat tadi, bahkan dia sangat gila, karena tiap dibuat karyanya, selalu diperpustakaan, yup, dia selalu mengotorinya dengan sisa-sisa potongan karton, lem, dan pewarna mulai dari cat air, crayon, spidol, dan banyak lagi. Tidak heran kalau dia sangat di benci Bu Rahma, pustakawan kampus kami. Tapi dia seperti tidak kapok, untuk dibentak Bu Rahma, bahkan dia selalu membelikan coklat. Memang sih, Bu Rahma tetap marah, tapi sepertinya bentakannya semakin lama semakin kecil volumenya, entah karena diberi coklat atau karena bosan marah dengan si Nyawa. Tapi aku pernah melihat mereka akur, bahkan Bu Rahma menangis dan memegang tangan si Nyawa, mereka saling bercerita, namun entah apa. Aku sangat hobi membaca, bahkan aku pernah memarahi teman wanitaku karena dia bosan menunggu aku mencari buku, rak demi rak. Dan akhirnya aku putus dengannya, memang dia yang memutuskan aku, namun justru aku yang paling berharap putus dengan dia. Akhirnya tiap aku mencari buku, aku hanya ditemani si Nyawa. Mungkin dapat dikatakan inilah pasangan homo yang paling aneh, karena kita cuma dateng ke tempat buku dan bergairah dengan buku tanpa pernah berhubungan sex menyimpang itu. Aku selalu senang dengan ditemani si Nyawa, bahkan aku berharap, jika aku mendapat kekasih, yang seperti si Nyawa tapi dengan jenis kelamin beda dengan si Nyawa tentunya.

Kurasa sudah cukup aku ceritakan sedikit kesanku akan si Nyawa, aku sangat sering berbagi cerita dengannya. Awalnya semua yang normal-normal aja, seperti tentang kuliah, teman, wanita, keluarga, masa depan, dan lainnya. Namun akhirnya dia mulai cerita, tentang makhluk yang bersemayam di dalam dirinya. Aku kaget, karena dia bilang sekaligus memperingatiku , “ SbS, aku pernah melenyapkan nyawa-nyawa teman-temanku apalagi teman baikku, bahkan beberapa saudaraku, tapi sepertinya kamu berbeda, jadi aku tidak akan melenyapkanmu, namun akan memanfaatkan mu untuk jadi tanganku. Oh iya, tapi bukan aku yang membunuh mereka, aku cuma membantu mereka lenyap dari bumi ini.”  Awalnya aku tertawa, akan canda sarkastik dia, tapi dia ulangi kata-katanya itu bahkan dengan tampang yang dingin sekali.

Tapi si Nyawa, tidak pernah terlibat secara fisik maupun menyuruh langsung orang lain untuk membunuh, ya dia lihai memanfaatkan orang, seperti halnya aku yang dimanfaatkannya dalam posisi “buku harian kejahatannya”. Ya, aku diubah menjadi halaman-halaman kosong yang nantinya diisi dengan kegiatan dia hari itu, yang kesemuanya menghasilkan satu nyawa melayang secara fisik maupun secara rohani. Aku tidak bisa lari dari si Nyawa karena, dia juga berperan sebagai buku harianku. Namun setelah dia memutuskan untuk lulus dengan sangat cepat dan mengambil studi magisternya, barulah aku terputus dan lega. Aku lega karena hidupku belum hilang, dan aku berusaha untuk juga menyelamatkan hidup orang lain yang terjerat si Nyawa. Hal ini karena si Nyawa sepertinya bertanggung jawab atas kematian Bu Rahma. Bu Rahma mati bunuh diri di dalam perpustakaan kampus kami, di depan pengunjung perpustakaan dengan membakar serta meledakkan tubuhnya berkeping-keping sambil berteriak, “Jalang!!!”. Semua orang terkejut, pingsan, menangis, takut, tapi hanya satu orang yang hanya bertampang dingin, tidak sedih, bahkan juga tidak senyum seperti pembunuh, si Nyawa hanya diam dan sangat dingin.

***

jatuh cinta

Thursday, June 23rd, 2005

sakitnya jatuh cinta memang ga ada apa2nya dibanding sakit gigi… gigi gw sakit banget bo!!!…