Jara

***

sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan…

***

Tidak terasa, sudah tiga tahun sejak aku lulus pendidikan sarjanaku. Memang aku belum merasakan nikmat atau pahitnya orang kantoran, karena aku hanya hidup di “Jalan”. Aku pernah kerja di kantor baik yang sesuai bidang kuliahku maupun yang tidak. Namun aku akhirnya memilih jalanan sebagai “penghidupan”ku. Semua berjalan lancar, bahkan aku mendapatkan uang yang lebih besar daripada orang yang bekerja di kantoran dengan jujur, tentu yang tidak jujur entah berapa banyak yang dia peroleh, tak terbayangkan. Namun orang tidak jujur pasti akan kehilangan sesuatu yang berharga, sekalipun mereka mendapatkan uang dan pengaruh yang sangat banyak, benar, mereka pasti hilang rasa manusianya. Huh, aku yang hanya hidup di “jalanan” kok bisa berbicara dengan bahasa tinggi. Aku berpikir bahwa ini semua karena dia, ya, dia orang eh salah temanku yang terbaik, namun aku sangat takut akan dirinya. Aku takut karena dalam dirinya ada penjelmaan makhluk yang sangat menakutkan, mungkin inilah yang dinamakan Dajjal.

***

“Hai, kenalkan aku Suad, nama lengkapku Suad Ibrahim, mungkin kalo ditambah nama bapakku, maka Suad Ibrahim bin Said Ibrahim, atau singkatnya SbS, Suad bin Said.”, itulah yang biasa aku ucapkan tiap aku berkenalan, tentunya tidak lupa dengan cengiran bibirku yang mengagumkan (tapi kata orang menjijikan). Dan itulah kata pertamaku kepadanya, teman terbaikku sekaligus makhluk yang paling mengerikan. Temanku itu menjawab, “ Senang berkenalan denganmu SbS, panggil aku Jara. Nama lengkapku Jara Leondro. Nama yang aneh yah…???”. Aku jawab, “ tepat… namamu aneh, dan namaku juga aneh apalagi kalo sudah disingkat, dan boleh khan aku berteman denganmu, yah sesama orang yang bernama aneh…”. “Hahaha… SbS, kamu orang yang sangat riang, aku suka berteman denganmu. Kamu kuliah juga disini? Di bagian apa? Kalo aku kuliah di teknik aku ambil arsitek, kamu?” “ Wah, Jara, sepertinya ucapan dan pertanyaan kali ini adalah rangkaian kata yang terpanjang yang pernah kau ucapkan ke orang yah…??? Abis lihat mukamu yang berubah dari “dingin” menjadi “hangat”. Aneh banget sih kamu… tapi untuk menjawab pertanyaanmu, baiklah, aku kuliah di sipil, hmm… kita ambil jurusan yang sebidang. Eh, kapan-kapan kita ngobrol lagi yah, aku ada kerjaan, biasa tugas menumpuk. Sampai nanti…. Eh, jangan lupa kenalkan aku dengan gadis-gadis arsitek yah… oke, dan keluarkan semuanya.” “Oke, tapi SbS, kamu harus mau jadi teman baikku sekaligus korban pertamaku.” “Apa??? Mana mau aku berkorban demi laki-laki, memangnya homo… sampai nanti Jara…”. Itulah awal aku berteman baik dengan Jara Leondro, atau mungkin lebih baik aku beberkan panggilanku untuknya, Jara si Nyawa. Panggilan ini karena, dia sangat baik dan cakap dalam hal memainkan nyawa orang lain.

***

Aku, menghabiskan banyak waktuku di perpustakaan kampus, toko buku dan taman bacaan serta tidak lupa ditemani teman baikku, si Nyawa. Tiap mengerjakan tugas, kami selalu mengerjakan ditempat-tempat tadi, bahkan dia sangat gila, karena tiap dibuat karyanya, selalu diperpustakaan, yup, dia selalu mengotorinya dengan sisa-sisa potongan karton, lem, dan pewarna mulai dari cat air, crayon, spidol, dan banyak lagi. Tidak heran kalau dia sangat di benci Bu Rahma, pustakawan kampus kami. Tapi dia seperti tidak kapok, untuk dibentak Bu Rahma, bahkan dia selalu membelikan coklat. Memang sih, Bu Rahma tetap marah, tapi sepertinya bentakannya semakin lama semakin kecil volumenya, entah karena diberi coklat atau karena bosan marah dengan si Nyawa. Tapi aku pernah melihat mereka akur, bahkan Bu Rahma menangis dan memegang tangan si Nyawa, mereka saling bercerita, namun entah apa. Aku sangat hobi membaca, bahkan aku pernah memarahi teman wanitaku karena dia bosan menunggu aku mencari buku, rak demi rak. Dan akhirnya aku putus dengannya, memang dia yang memutuskan aku, namun justru aku yang paling berharap putus dengan dia. Akhirnya tiap aku mencari buku, aku hanya ditemani si Nyawa. Mungkin dapat dikatakan inilah pasangan homo yang paling aneh, karena kita cuma dateng ke tempat buku dan bergairah dengan buku tanpa pernah berhubungan sex menyimpang itu. Aku selalu senang dengan ditemani si Nyawa, bahkan aku berharap, jika aku mendapat kekasih, yang seperti si Nyawa tapi dengan jenis kelamin beda dengan si Nyawa tentunya.

Kurasa sudah cukup aku ceritakan sedikit kesanku akan si Nyawa, aku sangat sering berbagi cerita dengannya. Awalnya semua yang normal-normal aja, seperti tentang kuliah, teman, wanita, keluarga, masa depan, dan lainnya. Namun akhirnya dia mulai cerita, tentang makhluk yang bersemayam di dalam dirinya. Aku kaget, karena dia bilang sekaligus memperingatiku , “ SbS, aku pernah melenyapkan nyawa-nyawa teman-temanku apalagi teman baikku, bahkan beberapa saudaraku, tapi sepertinya kamu berbeda, jadi aku tidak akan melenyapkanmu, namun akan memanfaatkan mu untuk jadi tanganku. Oh iya, tapi bukan aku yang membunuh mereka, aku cuma membantu mereka lenyap dari bumi ini.”  Awalnya aku tertawa, akan canda sarkastik dia, tapi dia ulangi kata-katanya itu bahkan dengan tampang yang dingin sekali.

Tapi si Nyawa, tidak pernah terlibat secara fisik maupun menyuruh langsung orang lain untuk membunuh, ya dia lihai memanfaatkan orang, seperti halnya aku yang dimanfaatkannya dalam posisi “buku harian kejahatannya”. Ya, aku diubah menjadi halaman-halaman kosong yang nantinya diisi dengan kegiatan dia hari itu, yang kesemuanya menghasilkan satu nyawa melayang secara fisik maupun secara rohani. Aku tidak bisa lari dari si Nyawa karena, dia juga berperan sebagai buku harianku. Namun setelah dia memutuskan untuk lulus dengan sangat cepat dan mengambil studi magisternya, barulah aku terputus dan lega. Aku lega karena hidupku belum hilang, dan aku berusaha untuk juga menyelamatkan hidup orang lain yang terjerat si Nyawa. Hal ini karena si Nyawa sepertinya bertanggung jawab atas kematian Bu Rahma. Bu Rahma mati bunuh diri di dalam perpustakaan kampus kami, di depan pengunjung perpustakaan dengan membakar serta meledakkan tubuhnya berkeping-keping sambil berteriak, “Jalang!!!”. Semua orang terkejut, pingsan, menangis, takut, tapi hanya satu orang yang hanya bertampang dingin, tidak sedih, bahkan juga tidak senyum seperti pembunuh, si Nyawa hanya diam dan sangat dingin.

***

One Response to “Jara”

  1. Mittu Says:

    Blogwalking ..
    nice posting i found here,.. thanks for the info

Leave a Reply