Archive for July, 2005

Love

Monday, July 11th, 2005

Cinta Yang Berpikir

“Cinta memang urusan hati. Tapi, tak ada cinta sejati tanpa menggunakan akal.”

“Cinta adalah perasaan. Namun cinta sejati tidak akan terbangun tanpa pengetahuan yang utuh terhadap apa yang kita cintai. Tidak ada cinta yang tidak akan roboh oleh perjalanan waktu maupun goncangan keadaan tanpa berpondasikan pada pengetahuan.”

“Cinta itu buta bagi orang yang hanya mendasarkan cinta pada perasaan saja. Cinta adalah pelita bagi orang yang mendasarkan cinta sebagai proses berpikir yang tumbuh kembang sehingga merasuk ke raga dan jiwa kita.”

“Cinta sejati tidak tumbuh dari perasaan saja karena perasaan amat tergantung atas situasi kita saat ini. Cinta sejati akan kekal dengan menumbuhkan pikiran akan cinta kita, yang direalisasikan dengan perbuatan cinta.”

Jara IV

Saturday, July 9th, 2005

***

Hampir tiap hari aku menghabiskan waktu dengan membaca dan sedikit jalan-jalan. Aku paling senang selagi jalan-jalan sekitar daerah kota di Jakarta. Banyak sekali bangunan tua, sekalipun banyak yang tidak terawat, namun masih tetap dapat memancarkan bayangan kehidupan masa lalu. Aku sangat senang melihat museum Fatahillah, bangunan yang dulu terkenal menakutkan karena di situ juga tempat pelaksanaan hukuman yang ditontonkan kepada masyarakat pada jaman penjajah Belanda. Mungkin semua itu akan membosankan jika aku tidak ditemani Jara. Jara, yang beralasan akan melihat dan meninjau bangunan-bangunan di kota untuk dijadikan inspirasi di kuliahnya yang jurusan arsitek itu, namun anehnya dia cuma membaca satu buku terus menerus, tanpa sedikit pun melihat bangunan yang ada. Namun, setiap aku terkagum atau mengkhayal akan bangunan yang ada di depanku, dia lalu menceritakan bacaannya itu. Aku heran, tetapi sepertinya ucapan-ucapan Jara yang merupakan tulisan buku yang sedang dibacanya, melambangkan kondisi dan khayalanku akan bangunan itu sendiri.

Aku melihat bangunan yang bekas toko orang Cina di jaman Belanda, Jara berkata, “ Pedagang, dia menjual kebutuhan orang lain, namun mengapa banyak pedagang yang tidak sekaya si pembeli, padahal dialah penyedia kebutuhan. Apakah kebutuhan pedagang dengan pembeli berbeda? Cina, begitu menakutkan, namun apanya? Negaranya? Penduduknya? Sukunya?  Keturunannya? Budayanya? Cina, sangat menakutkan, karena dapat hidup diberbagai tempat dan mengembangkan serta menguasai. Menarik!!”. Lalu aku melihat stasiun kereta Kota, sangat kolonial, kokoh, besar, dan kumal. Jara berkata, “ Aku bangun kebutuhanmu, aku bangun keinginanmu, aku bangun impianmu, namun kau hancurkan semuanya. Kau hancurkan semuanya. Tapi aku tidak lelah, tidak marah, karena aku telah meninggalkan jejak, bahwa aku lebih mulia dan unggul dari kamu semua… hai bangsa terjajah.” Dan tepat di lapangan depan museum Fatahillah, Jara berkata,”Wahai penerusku, aku bersimpuh luka dan lelah di lapangan ini. Aku pertahankan niatku dan niat pendahulumu, jagalah semuanya wahai penerusku.” dan dia juga berkata,” lapangan ini penuh darah, kira-kira kapan lagi kita bisa mengulang dengan banjir darah lagi, wahai temanku SbS?” Aku heran dan aku abaikan dia…

Aku dan Jara si Nyawa kembali ke kampus. Sepanjang perjalanan dia tertidur pulas, seperti telah mencurahkan semua kekuatannya untuk sekedar lihat-lihat daerah Kota. Aku pun turut terlelap, namun aku bermimpi, aku mimpi aku penguasa Jakarta karena hanya aku yang tersisa, yang lain mati. Mati, meninggal, tewas, wafat, mereka pergi dengan meninggalkan tubuh dimana-mana dan diriku seorang diri. Aku terbangun, dengan berbisik Jara mengucapkan,”Tenang kawan, aku akan menemanimu dalam mimpimu karena yang tersisa cuma kita berdua dan bangkai-bangkai tamak itu.” Aku terperanjat, darimana dia tahu mimpiku, apa aku juga mengigau? Tapi bisikannya itu bukan menakutiku namun justru menyenangkan, karena aku juga berharap akan hancurnya peradaban demi peradaban baru yang lebih baik. Namun apakah itu benar, tidak itu sangat salah, kita tidak boleh menghancurkan. Kita hanya boleh mengurangi dan meluruskan. Jara berkata, “Terimakasih SbS, hari ini sangat menyenangkan.” Aku jawab, “ya, aku juga terima kasih.”

***

Jara III

Monday, July 4th, 2005

***

“Hai SbS, aku menemukan buku bagus nih, kapan-kapan aku pinjami ke kamu yah, bukunya banyak bercerita tentang bangunan dan fasilitas manusia, cocok buat kita berdua.”, si Nyawa mengatakan hal itu ketika besok mau ujian akhir di semester 6 ku. Aneh memang, kok bisa makhluk mengerikan itu senang akan buku tentang ilmu bangunan, tapi aku justru penasaran. Malamnya aku sempat berniat untuk melewatkan ujianku besok hari dan berpura-pura sakit sehingga boleh mengikuti ujian susulan saja demi membaca buku barunya si Nyawa, sekalipun akhirnya aku urungkan niat tersebut. Gara-gara Jara, aku bisa gagal ujian.

“ Sbs, kawan baikku, aku khan pernah berjanji akan meminjamkan buku baruku itu, namun dengan satu syarat.” “Apa syaratnya Jara? asal ga disuruh jilat pantat lu, gw siap aja deh” “Hahaha, SbS lucu sekali. Syaratnya adalah temani aku menghabisi jiwa si Radi. Gimana Mau???” “Maksudmu, kita bunuh si Radi??? Atau cuma kita culik dan pukulin si Radi???” “Suad bin Said temanku, jangan pernah mengotori tangan kita dengan darah secara langsung, namun usahakan kotori tangan orang lain dengan ide dari diri kita” “APA??? Jara, maksudmu tanganku yang kau kotorkan???” “Bukan-bukan, tapi tangan si Radi sendiri.” “Ah Jara, jangan bikin aku bingung, lebih baik kau ceritakan langsung semua yang ada di otakmu.” “Oh itu juga tidak bagus, karena aku ingin kau tebak hasil dari perbuatanku. Kira-kira apa yang akan terjadi pada si Radi.” Semua adalah percakapanku dengan si Nyawa, sebelum dia melakukan hal yang sadis pada si Radi. Radi adalah temannya yang sangat populer dan kebetulan aku pun mengenalnya. Anaknya sangat baik, ramah, bahkan terkesan alim dan dia sangat pintar. Namun yang membuatnya populer adalah parasnya yang ganteng dan jantan. Awalnya aku pikir si Nyawa iri, ternyata justru si Nyawa cuma mau tahu apa perubahan yang terjadi jika si Radi terkena musibah yang belum pernah dia pikirkan sebelumnya. Aku kaget, namun aku juga tidak bisa menghentikan si Nyawa, karena aku bukan anak arsitek. Jara memaparkan idenya (namun ide sadisnya pasti tidak dipaparkan) disaat kuliah di jurusannya, arsitek, dan semua orang sepertinya membantu Jara dalam melakukannya.

Yang Jara lakukan adalah, membuat pentas drama dengan tokoh utama Radi. Tentu hal ini disetujui semua orang, siapa lagi yang sanggup menjadi tokoh teladan dalam pentas drama tersebut selain Radi. Jara, membujuk Radi agar mau jadi pemeran utama, dan dialog yang dibuat akan banyak diucapkan oleh Radi, mungkin seperti Monolog. Jara dan beberapa temannya saling berbagi ide untuk menciptakan skenario. Dan pentas drama pun digelar, yang datang adalah hampir satu kampus teknik dan staff pengajar. Dialog demi dialog dikatakan oleh Radi. Isi dialog itu adalah tentang sifat Radi yang memang baik, karena senang berteman, pintar, rendah hati juga populer. Namun perangkap si Jara juga termakan karena diakhir acara, Radi tiba-tiba teriak, “AKU BUKAN DEWA, AKU CUMA MANUSIA BIASA, AKU TIDAK SEMPURNA SEMUANYA CUMA SANDIWARA, SEPERTI PENTAS INI!!! KENAPA KALIAN SEMUA MENGANGGAP AKU HEBAT? APAKAH KELEBIHANKU DARI YANG LAIN? AKU TIDAK PINTAR KARENA MASIH BANYAK YANG LEBIH PINTAR, AKU TIDAK RAMAH KARENA BANYAK YANG JAUH LEBIH RAMAH TERHADAP PENJAHAT SEKALIPUN. AKU TIDAK GANTENG, KARENA BANYAK YANG GANTENG JAUH DARI AKU, AKU TIDAK POPULER KARENA AKTOR DI TV JAUH LEBIH POPULER DARI AKU. KENAPA KALIAN LAKUKAN INI SEMUA PADAKU, AKU HANYA INGIN KULIAH DAN LULUS DAN MENYEMPURNAKAN HIDUP DENGAN BERKELUARGA. KALIAN SEMUA BANGSAAATTT!!! JIJIK AKU. MUAK DAN HANYA PANTAT INI YANG PANTAS KALIAN DAPATKAN!!!” sambil si Radi membuka celananya dan melihatkan pantatnya ke semua orang. Aku langsung melihat si Nyawa, dia hanya melihat dengan dingin namun ada senyum diwajahnya. Dia berhasil merubah si Primadona menjadi Public Enemy No 1. Akhirnya si Radi di skors dan dia mengundurkan diri dari kuliahnya. Sampai aku lulus pun, cerita Radi tetap menggema. Yah akhirnya tetap si Radi populer, namun dengan akhir yang berbeda.

Jara, akhirnya membeberkan rahasianya, yah dia cuma menambahkan kata “dewa dan pangeran” pada dialog teman-teman Radi yang menjadi figuran di pentas drama tersebut. Dia tahu bahwa seseorang yang rendah hati dan alim seperti Radi, justru akan berubah jadi monster jika dia juga populer dan dipuja terlalu banyak dan berlebihan. Itu akan menimbulkan tekanan batin yang sangat tinggi seperti halnya penyelam yang langsung secara cepat berenang kepermukaan, dia akan mati karena pembuluh darah tubuhnya tidak kuat menahan tekanan udara terutama gas nitrogen sehingga pecah. Ya, si Radi pecah dengan teriakannya dan pameran pantatnya itu. Jara telah puas, dan aku pun mendapatkan buku baru si Jara karena aku telah menyaksikan dan menemani si Nyawa dalam merenggut jiwa Radi.

***