Jara III
***
“Hai SbS, aku menemukan buku bagus nih, kapan-kapan aku pinjami ke kamu yah, bukunya banyak bercerita tentang bangunan dan fasilitas manusia, cocok buat kita berdua.”, si Nyawa mengatakan hal itu ketika besok mau ujian akhir di semester 6 ku. Aneh memang, kok bisa makhluk mengerikan itu senang akan buku tentang ilmu bangunan, tapi aku justru penasaran. Malamnya aku sempat berniat untuk melewatkan ujianku besok hari dan berpura-pura sakit sehingga boleh mengikuti ujian susulan saja demi membaca buku barunya si Nyawa, sekalipun akhirnya aku urungkan niat tersebut. Gara-gara Jara, aku bisa gagal ujian.
“ Sbs, kawan baikku, aku khan pernah berjanji akan meminjamkan buku baruku itu, namun dengan satu syarat.” “Apa syaratnya Jara? asal ga disuruh jilat pantat lu, gw siap aja deh” “Hahaha, SbS lucu sekali. Syaratnya adalah temani aku menghabisi jiwa si Radi. Gimana Mau???” “Maksudmu, kita bunuh si Radi??? Atau cuma kita culik dan pukulin si Radi???” “Suad bin Said temanku, jangan pernah mengotori tangan kita dengan darah secara langsung, namun usahakan kotori tangan orang lain dengan ide dari diri kita” “APA??? Jara, maksudmu tanganku yang kau kotorkan???” “Bukan-bukan, tapi tangan si Radi sendiri.” “Ah Jara, jangan bikin aku bingung, lebih baik kau ceritakan langsung semua yang ada di otakmu.” “Oh itu juga tidak bagus, karena aku ingin kau tebak hasil dari perbuatanku. Kira-kira apa yang akan terjadi pada si Radi.” Semua adalah percakapanku dengan si Nyawa, sebelum dia melakukan hal yang sadis pada si Radi. Radi adalah temannya yang sangat populer dan kebetulan aku pun mengenalnya. Anaknya sangat baik, ramah, bahkan terkesan alim dan dia sangat pintar. Namun yang membuatnya populer adalah parasnya yang ganteng dan jantan. Awalnya aku pikir si Nyawa iri, ternyata justru si Nyawa cuma mau tahu apa perubahan yang terjadi jika si Radi terkena musibah yang belum pernah dia pikirkan sebelumnya. Aku kaget, namun aku juga tidak bisa menghentikan si Nyawa, karena aku bukan anak arsitek. Jara memaparkan idenya (namun ide sadisnya pasti tidak dipaparkan) disaat kuliah di jurusannya, arsitek, dan semua orang sepertinya membantu Jara dalam melakukannya.
Yang Jara lakukan adalah, membuat pentas drama dengan tokoh utama Radi. Tentu hal ini disetujui semua orang, siapa lagi yang sanggup menjadi tokoh teladan dalam pentas drama tersebut selain Radi. Jara, membujuk Radi agar mau jadi pemeran utama, dan dialog yang dibuat akan banyak diucapkan oleh Radi, mungkin seperti Monolog. Jara dan beberapa temannya saling berbagi ide untuk menciptakan skenario. Dan pentas drama pun digelar, yang datang adalah hampir satu kampus teknik dan staff pengajar. Dialog demi dialog dikatakan oleh Radi. Isi dialog itu adalah tentang sifat Radi yang memang baik, karena senang berteman, pintar, rendah hati juga populer. Namun perangkap si Jara juga termakan karena diakhir acara, Radi tiba-tiba teriak, “AKU BUKAN DEWA, AKU CUMA MANUSIA BIASA, AKU TIDAK SEMPURNA SEMUANYA CUMA SANDIWARA, SEPERTI PENTAS INI!!! KENAPA KALIAN SEMUA MENGANGGAP AKU HEBAT? APAKAH KELEBIHANKU DARI YANG LAIN? AKU TIDAK PINTAR KARENA MASIH BANYAK YANG LEBIH PINTAR, AKU TIDAK RAMAH KARENA BANYAK YANG JAUH LEBIH RAMAH TERHADAP PENJAHAT SEKALIPUN. AKU TIDAK GANTENG, KARENA BANYAK YANG GANTENG JAUH DARI AKU, AKU TIDAK POPULER KARENA AKTOR DI TV JAUH LEBIH POPULER DARI AKU. KENAPA KALIAN LAKUKAN INI SEMUA PADAKU, AKU HANYA INGIN KULIAH DAN LULUS DAN MENYEMPURNAKAN HIDUP DENGAN BERKELUARGA. KALIAN SEMUA BANGSAAATTT!!! JIJIK AKU. MUAK DAN HANYA PANTAT INI YANG PANTAS KALIAN DAPATKAN!!!” sambil si Radi membuka celananya dan melihatkan pantatnya ke semua orang. Aku langsung melihat si Nyawa, dia hanya melihat dengan dingin namun ada senyum diwajahnya. Dia berhasil merubah si Primadona menjadi Public Enemy No 1. Akhirnya si Radi di skors dan dia mengundurkan diri dari kuliahnya. Sampai aku lulus pun, cerita Radi tetap menggema. Yah akhirnya tetap si Radi populer, namun dengan akhir yang berbeda.
Jara, akhirnya membeberkan rahasianya, yah dia cuma menambahkan kata “dewa dan pangeran” pada dialog teman-teman Radi yang menjadi figuran di pentas drama tersebut. Dia tahu bahwa seseorang yang rendah hati dan alim seperti Radi, justru akan berubah jadi monster jika dia juga populer dan dipuja terlalu banyak dan berlebihan. Itu akan menimbulkan tekanan batin yang sangat tinggi seperti halnya penyelam yang langsung secara cepat berenang kepermukaan, dia akan mati karena pembuluh darah tubuhnya tidak kuat menahan tekanan udara terutama gas nitrogen sehingga pecah. Ya, si Radi pecah dengan teriakannya dan pameran pantatnya itu. Jara telah puas, dan aku pun mendapatkan buku baru si Jara karena aku telah menyaksikan dan menemani si Nyawa dalam merenggut jiwa Radi.
***