Jara IV

***

Hampir tiap hari aku menghabiskan waktu dengan membaca dan sedikit jalan-jalan. Aku paling senang selagi jalan-jalan sekitar daerah kota di Jakarta. Banyak sekali bangunan tua, sekalipun banyak yang tidak terawat, namun masih tetap dapat memancarkan bayangan kehidupan masa lalu. Aku sangat senang melihat museum Fatahillah, bangunan yang dulu terkenal menakutkan karena di situ juga tempat pelaksanaan hukuman yang ditontonkan kepada masyarakat pada jaman penjajah Belanda. Mungkin semua itu akan membosankan jika aku tidak ditemani Jara. Jara, yang beralasan akan melihat dan meninjau bangunan-bangunan di kota untuk dijadikan inspirasi di kuliahnya yang jurusan arsitek itu, namun anehnya dia cuma membaca satu buku terus menerus, tanpa sedikit pun melihat bangunan yang ada. Namun, setiap aku terkagum atau mengkhayal akan bangunan yang ada di depanku, dia lalu menceritakan bacaannya itu. Aku heran, tetapi sepertinya ucapan-ucapan Jara yang merupakan tulisan buku yang sedang dibacanya, melambangkan kondisi dan khayalanku akan bangunan itu sendiri.

Aku melihat bangunan yang bekas toko orang Cina di jaman Belanda, Jara berkata, “ Pedagang, dia menjual kebutuhan orang lain, namun mengapa banyak pedagang yang tidak sekaya si pembeli, padahal dialah penyedia kebutuhan. Apakah kebutuhan pedagang dengan pembeli berbeda? Cina, begitu menakutkan, namun apanya? Negaranya? Penduduknya? Sukunya?  Keturunannya? Budayanya? Cina, sangat menakutkan, karena dapat hidup diberbagai tempat dan mengembangkan serta menguasai. Menarik!!”. Lalu aku melihat stasiun kereta Kota, sangat kolonial, kokoh, besar, dan kumal. Jara berkata, “ Aku bangun kebutuhanmu, aku bangun keinginanmu, aku bangun impianmu, namun kau hancurkan semuanya. Kau hancurkan semuanya. Tapi aku tidak lelah, tidak marah, karena aku telah meninggalkan jejak, bahwa aku lebih mulia dan unggul dari kamu semua… hai bangsa terjajah.” Dan tepat di lapangan depan museum Fatahillah, Jara berkata,”Wahai penerusku, aku bersimpuh luka dan lelah di lapangan ini. Aku pertahankan niatku dan niat pendahulumu, jagalah semuanya wahai penerusku.” dan dia juga berkata,” lapangan ini penuh darah, kira-kira kapan lagi kita bisa mengulang dengan banjir darah lagi, wahai temanku SbS?” Aku heran dan aku abaikan dia…

Aku dan Jara si Nyawa kembali ke kampus. Sepanjang perjalanan dia tertidur pulas, seperti telah mencurahkan semua kekuatannya untuk sekedar lihat-lihat daerah Kota. Aku pun turut terlelap, namun aku bermimpi, aku mimpi aku penguasa Jakarta karena hanya aku yang tersisa, yang lain mati. Mati, meninggal, tewas, wafat, mereka pergi dengan meninggalkan tubuh dimana-mana dan diriku seorang diri. Aku terbangun, dengan berbisik Jara mengucapkan,”Tenang kawan, aku akan menemanimu dalam mimpimu karena yang tersisa cuma kita berdua dan bangkai-bangkai tamak itu.” Aku terperanjat, darimana dia tahu mimpiku, apa aku juga mengigau? Tapi bisikannya itu bukan menakutiku namun justru menyenangkan, karena aku juga berharap akan hancurnya peradaban demi peradaban baru yang lebih baik. Namun apakah itu benar, tidak itu sangat salah, kita tidak boleh menghancurkan. Kita hanya boleh mengurangi dan meluruskan. Jara berkata, “Terimakasih SbS, hari ini sangat menyenangkan.” Aku jawab, “ya, aku juga terima kasih.”

***

One Response to “Jara IV”

  1. novayantie Says:

    jara teh siapa sih? apa loe lagi ngayal ya..apa gue yg bego? he..he

Leave a Reply