NII 4
***
Lalu mereka masuk cerita ttg kondisi tempat Rasulullah hidup saat itu di kota Mekkah. Kota Mekkah saat itu merupakan pusat kehidupan utama bagi bangsa Arab, mereka semua berkumpul dari berbagai daerah dan saling berdagang dan kembali ke daerah masing2 dgn keuntungan besar namun banyak yg diperoleh dgn tdk halal seperti mengacaukan timbangan dll. Kejahatan merajalela, namun dibiarkan bahkan oleh aparat kota saat itu. Kemudian Rasulullah mulai dakwah, namun bukannya diterima dgn tangan terbuka namun dibenci, disakiti dll oleh orang Mekkah yg Notabene banyak juga famili Rasulullah yg ikut menyakiti. Akhirnya Rasulullah mulai Hijrah yg sampai di kota Madinah yg kondisinya bisa dibilang 180 derajat berbeda dgn Mekkah. Rasulullah diterima dgn tangan terbuka, bahkan dijadikan pimpinan kota tsb. Di Madinah lah umat Islam berkembang pesat dan menjadi kuat serta mententramkan Umat Islam, sekaligus membuat penduduk Mekkah khawatir dan berniat menyerang.
Nah kondisi Mekkah itu disamakan dgn kondisi Republik Indonesia (RI) saat ini dimana kita bisa sangat kaya dgn melakukan kecurangan baik itu korupsi maupun menipu dalam berdagang. Lalu kejahatan merajalela, buktinya semakin hari semakin banyak berita kejahatan. Nah, mereka ini mengatakan bahwa NII mirip dgn golongan pendukung awal Rasulullah yg taat menjalankan kebaikan namun diperangi oleh masyarakat termasuk dari pihak keluarga sedarah mereka. Agar tentram maka kita harus Hijrah ke NII (sebagai kota Madinah yg menentramkan). Lalu mereka berkoar tentang beberapa ayat suci, namun pakenya seenak udel mereka agar mendukung pernyataan mereka tersebut.
Kira2 itu semua di ceritakan dgn waktu cukup lama, bahkan mereka sedikit memaksa gw untuk sholat Maghrib nya di jamak dgn Isya, agar tidak membuat cerita mereka terpotong ditengah, namun akibat kengototan gw dgn alasan masjid dekat bahkan mungkin cuma mindahin pantat, tapi kok malah sholat di jamak seperti orang yg bepergian aja. Akhirnya mereka nyerah dan minta gw sholat di rumah itu, jgn di mesjid dgn berjamaah. Lega gw, namun gw juga khawatir mau sholat dimana, krn ruangan yg mereka jadikan mushola itu cuma cukup 2 orang berdempetan serta dihamparkan sajadah apek serta dipenuhi barang2 bak gudng saja. Namun mereka seperti membaca kekhawatiran gw, mereka menyulap ruang duduk2 yg cukup luas jadi tempat sholat berjamaah lengkap dgn karpet berbentuk sajadah seperti di masjid2 yg terasa bersih, beda dgn sajadah di mushola mereka. Tiba2 mereka sepakat gw jadi Imam sholat saat itu, padahal kalo mengingat sunnah Rasulullah bahwa sebaiknya yg menjadi Imam adalah orang yg paling tua, berpendidikan tinggi (terutama di bidang agama Islam), bacaannya fasih dan tuan rumah dari tempat kita sholat. Kok saat itu gw yg ditunjuk, saat itu banyak dari anggota NII laki yg lebih tua dari gw, bahkan penceramah gw yg cerita ttg dunia Islam tadi gw dengar cukup bagus bacaan Al-Qurannya, ditambah gw cuma tamu. Tapi gw terima aja asal cepat krn sebentar lg Isya. Nah kira2 di rumah itu ada belasan hingga 20 orang, namun yg ikut sholat berjamaah cuma 6 orang, yaitu si penceramah gw, temen gw dan beberapa calon anggota baru, sisanya hanya duduk2 diluar rumah maupun dibelakang gw sambil bisik2.
***
November 30th, 2008 at 1:17 pm
I ve been reading along for a while now. I just wanted to drop you a comment to say keep up the good work.
Joan
Tips Beauty