NII limA
***
Setelah Maghrib, ceramah dilanjutkan dgn cerita ttg pohon. Si penceramah mengumpamakan kita agar seperti pohon yg dia gambar. Pohon itu sangat rindang dan gw lihat gambarnya bagus juga…hehehe… mungkin dia ada jiwa seninya. Dia bilang kita harus seperti pohon, yaitu punya akar yg kuat dan mencengkram tanah kuat, batang yg kokoh, ranting yang bagus dan daun serta buah yg indah dan bagus. Intinya untuk menjadi Muslim yang benar (NII yg benar sih maksudnya) kita hrs punya akar yg kuat berupa pemahaman dasar NII serta awal perjuangannya. Lalu kita harus kokoh dalam berpendirian seperti batang pohon, dimana kita tetap tidak goyah sekalipun diterpa angin kebencian oleh keluarga sendiri. Kemudian dia mengatakan bahwa kita harus mampu menghiasi kehidupan di Indonesia dgn memperjuangkan NII seperti daun dan buah si pohon. Kira2 seperti itu, lalu dia kembali berkoar2 ayat yg mendukung pernyataan dia… tapi gw lupa yg mana ayatnya.
Dia baru berhenti berkoar kira2 jam 10 malam. Lalu dia minta gw dateng lagi besok, namun usahakan pagian agar gw pulangnya ga terlalu malam, semua itu untuk mengikuti proses pengajian tahap 2 alias pemantapan terhadap dasar NII. Biasanya sebelum kita di bai’at jadi anggota NII kita harus melewati pengajian hingga 3-5 kali sebagai persiapan, lalu hari kita akan di bai’at kita kembali menjalani paket “siraman rohani” sebanyak 5 tahap. Biasanya hanya yg beruntung atau dianggap bisa jadi anggota yg bagus mungkin berpotensi yg melalui hal-hal diatas dgn jumlah yg sedikit. Kebetulan gw cuma melakukan 1 kali pengajian, krn besoknya gw langsung masuk proses bai’at yg 5 tahap itu, namun gw juga cuma ngelakuin 4 tahap dimana tahap 4 & 5 gw dapet treatment spesial dgn digabung satu dgn dikelilingin 5 orang petinggi NII.
Ketika pulang, temen gw minta gw diskusi dgn dia di rumahnya, gila… cewek cantik ngajak gw diskusi malem2. Eh temen gw itu cewek baik-baik, bahkan tipe yg paling cocok dijadikan pasangan hidup, ramah, cantik, sopan dalam berbicara maupun berpenampilan, humoris, dan cukup berada plus pintar lagi. Kurang apa coba??? Selagi gw diskusi, temen gw sepertinya agak maksa gw untuk besok datang lagi setiap gw ceritain keheranan-keheranan gw tadi, bukannya dia kasih pengertian, namun ujung2nya gw musti dateng lagi besok.
***