NII Ten
Wednesday, October 26th, 2005***
Diluar ruangan, telah datang beberapa anggota NII lain dan mereka mempersilahkan gw dan cewek jilbab itu duduk bersila bareng mereka. Semua yg disitu mengungkapkan indah dan enaknya bergabung NII, kita jadi tentram dan makin semangat menjalankan hidup baik itu dalam bekerja dan studi, alias lebih giat. Nah salah satu dari mereka bahkan ngebanyol dengan mengatakan di NII dia menemukan pasangan hidup mereka yang selain sesuai dgn kriteria dia, tapi juga seiman alias anggota NII juga, jadi buat yg jomblo, akan sangat menguntungkan. Dalam hati gw, itu enak apalagi gw teringat ama temen gw yg mengajak gw ke NII serta cewe cantik yg gw temui di rumah sebelumnya. Gw mau banget kalo mereka jadi pasangan hidup gw. Kemudian gw denger ada mobil berhenti. Dan masuklah 4-6 orang, dimana 2 orang diantaranya adalah calon anggota baru dari luar Jakarta, jadi mereka telat datang. Calon itu dari Lampung dan Bandung. Satu cowok yang cukup tua dan satu lagi adalah cewek (yang cewek dari bandung). Yang dari Lampung memang baru tiba langsung dari sana, tapi yg dari Bandung ternyata dia sudah hampir 10 hari di Jakarta, dan telah banyak mengunjungi markas2 lain NII seperti di Jatibening, matraman, slipi, tebet, pondok labu, cakung, tangerang dll (gw lupa yang lainnya). Kita semua duduk-duduk, lalu seorang anggota NII beli gorengan dan martabak asin. Trus kita makan makanan kecil itu, sedangkan yg didalam ruangan, pada belum makan juga belum minum. Akhirnya gw, cewek berjilbab dan 2 calon anggota baru itu diminta masuk ruangan lain yg lebih kecil. Disitu cuma ada kursi yang dibentuk lingkaran seperti dibuat untuk berdiskusi.
Setelah menunggu cukup lama di ruangan itu akhirnya masuk beberapa mentor, kira 5 orang dimana 3 orang diantaranya gw kenal, yaitu mentor gw di tahap 1 dan 3 serta mentor di tahap 4 tadi, seorang adalah mentor yang tadi ngebanyol tadi pas diluar ruangan, satu lagi gw ga tau dan belum pernah lihat. Tapi yang ini sepertinya punya kedudukan sangat tinggi karena selain terlihat berwibawa, sepertinya dia cukup cerdas serta bertutur kata sopan dan lancar. Apalagi 4 mentor yang lain seperti cuma mengiyakan setiap perkataan dia.
Si mentor baru itu mengatakan bahwa ini adalah sesi khusus dalam proses bai’at hari ini, dia juga mengatakan bahwa kita adalah calon potensial bagi NII. Dia bilang anggap saja ini proses tahap 5 (seharusnya tahap lima itu dilakukan dengan kita menginap beberapa hari beserta calon-calon anggota lain, yang katanya akan diadakan di Sawangan dengan kita menyetor biaya setiap orang sejumlah kira2150ribu tapi gw juga ga terlalu ingat ditambah kita harus menyiapkan bekal yg cukup buat makan maupun transport kita). Ditahap ini tidak melakukan penjelasan, tapi berupa diskusi tentang pertanyaan2 yg muncul di diri kita masing masing, lalu juga si mentor bercerita awal masuknya (hijrahnya) dia di NII. Pertanyaan2 yg membebani gw ga tanyakan, seperti kenapa gampang mengkafirkan orang lain, kenapa mudah menyatakan bahwa NII adalah jaminan surga, kenapa kita diperbolehkan mencuri dari orang diluar NII, trus juga pertanyaan ttg apa yg dilakukan anggota NII dalam kehidupan bernegara di NII, sekaligus pertanyaan seputar ibadah yang wajib dilakukan demi menjalankan Islam yang lebih baik, juga pertanyaan ttg calon pasangan hidup (hehehe…jadi malu gw), herannya si cewek jilbab kali ini cuma diam seriba bahasa, namun tangannya seperti gelisah dan dia terus menerus menunduk. Yang dari Lampung bercerita ttg ketidaksediaan istrinya utk bergabung ke NII, apakah dia harus menceraikan istrinya yang katanya dia sangat mencintainya. Sedangkan mbak yg dari Bandung bertanya akan keselamatan dirinya jika dia balik ke Bandung serta dia masih punya kewajiban mengurus ibunya yang sudah tua dan lagi sakit, karena dia takut selagi di NII dia malah disuruh giat di NII sehingga menelantarkan ibunya.
Si mentor, mendengarkan semua pertanyaan kita dan menjawab satu per satu pertanyaan kita. Jawaban dia sangat lembut, logis dan diperkuat ayat suci atau hadits. Seperti jawaban mbak yg dari Bandung, bahwa NII tidak serta merta memutuskan hubungan darah antara anggota dgn keluarganya yg bukan NII, namun kita harus sadar bahwa mereka itu KAFIR jadi kita harus kuat dalam mengatakan tidak jika keluarga memaksa kita meninggalkan NII, bahkan jika si mbak menelantarkan ibunya, itu merupakan dosa berat dan dalam hukum Islam yg diterapkan di NII itu ada sangsinya (namun dia belum mau memberitahu sangsinya apa) lalu dia berkisah hadits di mana Rasulullah mengatakan bahwa hormati Ibu kita 3x lalu baru Ayah kita.
Kemudian tentang istri orang dari Lampung itu, adalah cobaan yang bagus agar dia lebih beriman, dimana jika si istri masuk NII itu merupakan anugrah terbesar, namun jika tidak maka anggap saja si istri bak Hindun istri Abu Sofyan paman Rasulullah yang Kafir, bengis dan musuh Islam bahkan mau memakan hati paman Rasulullah, Hamzah. Namun Abu sofyan yang akhirnya masuk Islam tetap mencintai Istrinya itu.
Pertanyaan gw dibilang dia sangat bagus dan justru semakin dapat membuat kita mengerti hakikat NII, dia memuji bahwa gw cerdas sekaligus potensial jadi mentor. Gw lupa jawaban2 dia, tapi gw ngerasa jawaban dia itu logis dan membuat gw ga kesel lagi.
Akhirnya dia bertanya, apakah gw dan 3 orang lainnya masih mau di bai’at. Pertama dia nengok ke yg dari Lampung, dia hanya mengangguk kecil sepertinya masih bingung. Kemudian mbak yang dari Bandung, dia menjawab dia mau asal dia bisa balik ke Bandung besok (saat itu udah jam 12 malam) dan kembali ke keluarganya. Lalu tiba giliran gw, gw bilang masih mau tanpa syarat2 lain selain hari itu gw dah capek banget dan mau tidur, jadi biar cepet gw bilang masih mau aja. Dan si cewek jilbab malah bilang tidak mau di bai’at hari itu, dia masih butuh waktu. Akhirnya si mentor bilang bahwa gw dan mbak yg dari Bandung untuk pindah ke ruangan tadi gw masuk pertama kali di rumah itu. Gw ga tau gimana atau apa yg dibicarakan lebih lanjut kepada si cewek jilbab dan mas yg dari Lampung itu.
Di ruangan itu, sudah kosong, karena calon anggota lain telah duduk-duduk diluar. Di ruangan itu masuk si mentor gw di tahap 3, dia mulai dengan menanyakan apakah kita masih mau di bai’at. Lalu kita jawab mau dan mulailah prosesi bai’at itu dimana dimulai dgn membaca Al-Fatihah, lalu dia menjelaskan lagi akan NII dan apa yang harus kita ingat. Lalu dia membacakan biodata kita lengkap dgn menyebutkan nama baru kita. Kemudia dia menanyakan lagi apakah kita masih mau dibai’at, tentu saja kita jawab mau. Akhirnya dia menuntun kita membaca Syahadat, Basmallah, lalu janji anggota NII yang dalam bahasa Arab (kita cuma ngikutin), setelah itu selesai dan dia mengucapkan selamat menjadi anggota baru NII, dan kita bisa pulang. Wah senengnya hati gw, akhirnya gw bisa istirahat, dan kita pun keluar bergabung dgn calon anggota lainnya. Kita masih harus nunggu lama sebelum benar2 pulang, kira2 saat itu sudah hampir jam 3 pagi.
Saat kita mau pulang, tiba-tiba gw diminta ke markas NII yg di Pejaten. Kebetulan yg minta itu temen gw yang ngajak masuk NII, katanya sekaligus jemput dia dan antar dia ke rumahnya. Gw langsung menuju dengan mobil gw, mobil gw dianterin oleh anak NII. Sesampainya di Pejaten, ternyata gw masih diajak diskusi, dan tema utamanya adalah ajakan kembali agar gw terus melanjutkan “hijrah” ke NII. Berhubung gw sudah melewati batas kelelahan, maka gw angguk2 aja. Dan untungnya anggukan gw ini malah meyakinkan orang2 NII bahwa gw bakal masuk ke NII.
Dan akhirnya gw bener2 pulang, dan saat itu tepat pukul 4.30 pagi. Gw coba tidur pas sesampainya di rumah, tapi tidak bisa. Dan tau ga, mujarab sekali ajakan NII, karena hari itu gw melewatkan sholah shubuh dgn sadar. Atau bisa dikatakan saking bingungnya gw, gw ga yakin mau melakukan sholat shubuh.
***