Archive for October, 2005

NII Ten

Wednesday, October 26th, 2005

***

Diluar ruangan, telah datang beberapa anggota NII lain dan mereka mempersilahkan gw dan cewek jilbab itu duduk bersila bareng mereka. Semua yg disitu mengungkapkan indah dan enaknya bergabung NII, kita jadi tentram dan makin semangat menjalankan hidup baik itu dalam bekerja dan studi, alias lebih giat. Nah salah satu dari mereka bahkan ngebanyol dengan mengatakan di NII dia menemukan pasangan hidup mereka yang selain sesuai dgn kriteria dia, tapi juga seiman alias anggota NII juga, jadi buat yg jomblo, akan sangat menguntungkan. Dalam hati gw, itu enak apalagi gw teringat ama temen gw yg mengajak gw ke NII serta cewe cantik yg gw temui di rumah sebelumnya. Gw mau banget kalo mereka jadi pasangan hidup gw. Kemudian gw denger ada mobil berhenti. Dan masuklah 4-6 orang, dimana 2 orang diantaranya adalah calon anggota baru dari luar Jakarta, jadi mereka telat datang. Calon itu dari Lampung dan Bandung. Satu cowok yang cukup tua dan satu lagi adalah cewek (yang cewek dari bandung). Yang dari Lampung memang baru tiba langsung dari sana, tapi yg dari Bandung ternyata dia sudah hampir 10 hari di Jakarta, dan telah banyak mengunjungi markas2 lain NII seperti di Jatibening, matraman, slipi, tebet, pondok labu, cakung, tangerang dll (gw lupa yang lainnya). Kita semua duduk-duduk, lalu seorang anggota NII beli gorengan dan martabak asin. Trus kita makan makanan kecil itu, sedangkan yg didalam ruangan, pada belum makan juga belum minum. Akhirnya gw, cewek berjilbab dan 2 calon anggota baru itu diminta masuk ruangan lain yg lebih kecil. Disitu cuma ada kursi yang dibentuk lingkaran seperti dibuat untuk berdiskusi.

Setelah menunggu cukup lama di ruangan itu akhirnya masuk beberapa mentor, kira 5 orang dimana 3 orang diantaranya gw kenal, yaitu mentor gw di tahap 1 dan 3 serta mentor di tahap 4 tadi, seorang adalah mentor yang tadi ngebanyol tadi pas diluar ruangan, satu lagi gw ga tau dan belum pernah lihat. Tapi yang ini sepertinya punya kedudukan sangat tinggi karena selain terlihat berwibawa, sepertinya dia cukup cerdas serta bertutur kata sopan dan lancar. Apalagi 4 mentor yang lain seperti cuma mengiyakan setiap perkataan dia.

Si mentor baru itu mengatakan bahwa ini adalah sesi khusus dalam proses bai’at hari ini, dia juga mengatakan bahwa kita adalah calon potensial bagi NII. Dia bilang anggap saja ini proses tahap 5 (seharusnya tahap lima itu dilakukan dengan kita menginap beberapa hari beserta calon-calon anggota lain, yang katanya akan diadakan di Sawangan dengan kita menyetor biaya setiap orang sejumlah kira2150ribu tapi gw juga ga terlalu ingat ditambah kita harus menyiapkan bekal yg cukup buat makan maupun transport kita).  Ditahap ini tidak melakukan penjelasan, tapi berupa diskusi tentang pertanyaan2 yg muncul di diri kita masing masing, lalu juga si mentor bercerita awal masuknya (hijrahnya) dia di NII. Pertanyaan2 yg membebani gw ga tanyakan, seperti kenapa gampang mengkafirkan orang lain, kenapa mudah menyatakan bahwa NII adalah jaminan surga, kenapa kita diperbolehkan mencuri dari orang diluar NII, trus juga pertanyaan ttg apa yg dilakukan anggota NII dalam kehidupan bernegara di NII, sekaligus pertanyaan seputar ibadah yang wajib dilakukan demi menjalankan Islam yang lebih baik, juga pertanyaan ttg calon pasangan hidup (hehehe…jadi malu gw), herannya si cewek jilbab kali ini cuma diam seriba bahasa, namun tangannya seperti gelisah dan dia terus menerus menunduk. Yang dari Lampung bercerita ttg ketidaksediaan istrinya utk bergabung ke NII, apakah dia harus menceraikan istrinya yang katanya dia sangat mencintainya. Sedangkan mbak yg dari Bandung bertanya akan keselamatan dirinya jika dia balik ke Bandung serta dia masih punya kewajiban mengurus ibunya yang sudah tua dan lagi sakit, karena dia takut selagi di NII dia malah disuruh giat di NII sehingga menelantarkan ibunya.

Si mentor, mendengarkan semua pertanyaan kita dan menjawab satu per satu pertanyaan kita. Jawaban dia sangat lembut, logis dan diperkuat ayat suci atau hadits. Seperti jawaban mbak yg dari Bandung, bahwa NII tidak serta merta memutuskan hubungan darah antara anggota dgn keluarganya yg bukan NII, namun kita harus sadar bahwa mereka itu KAFIR jadi kita harus kuat dalam mengatakan tidak jika keluarga memaksa kita meninggalkan NII, bahkan jika si mbak menelantarkan ibunya, itu merupakan dosa berat dan dalam hukum Islam yg diterapkan di NII itu ada sangsinya (namun dia belum mau memberitahu sangsinya apa) lalu dia berkisah hadits di mana Rasulullah mengatakan bahwa hormati Ibu kita 3x lalu baru Ayah kita.

Kemudian tentang istri orang dari Lampung itu, adalah cobaan yang bagus agar dia lebih beriman, dimana jika si istri masuk NII itu merupakan anugrah terbesar, namun jika tidak maka anggap saja si istri bak Hindun istri Abu Sofyan paman Rasulullah yang Kafir, bengis dan musuh Islam bahkan mau memakan hati paman Rasulullah, Hamzah. Namun Abu sofyan yang akhirnya masuk Islam tetap mencintai Istrinya itu.

Pertanyaan gw dibilang dia sangat bagus dan justru semakin dapat membuat kita mengerti hakikat NII, dia memuji bahwa gw cerdas sekaligus potensial jadi mentor. Gw lupa jawaban2 dia, tapi gw ngerasa jawaban dia itu logis dan membuat gw ga kesel lagi.

Akhirnya dia bertanya, apakah gw dan 3 orang lainnya masih mau di bai’at. Pertama dia nengok ke yg dari Lampung, dia hanya mengangguk kecil sepertinya masih bingung. Kemudian mbak yang dari Bandung, dia menjawab dia mau asal dia bisa balik ke Bandung besok (saat itu udah jam 12 malam) dan kembali ke keluarganya. Lalu tiba giliran gw, gw bilang masih mau tanpa syarat2 lain selain hari itu gw dah capek banget dan mau tidur, jadi biar cepet gw bilang masih mau aja. Dan si cewek jilbab malah bilang tidak mau di bai’at hari itu, dia masih butuh waktu. Akhirnya si mentor bilang bahwa gw dan mbak yg dari Bandung untuk pindah ke ruangan tadi gw masuk pertama kali di rumah itu. Gw ga tau gimana atau apa yg dibicarakan lebih lanjut kepada si cewek jilbab dan mas yg dari Lampung itu.

Di ruangan itu, sudah kosong, karena calon anggota lain telah duduk-duduk diluar. Di ruangan itu masuk si mentor gw di tahap 3, dia mulai dengan menanyakan apakah kita masih mau di bai’at. Lalu kita jawab mau dan mulailah prosesi bai’at itu dimana dimulai dgn membaca Al-Fatihah, lalu dia menjelaskan lagi akan NII dan apa yang harus kita ingat. Lalu dia membacakan biodata kita lengkap dgn menyebutkan nama baru kita. Kemudia dia menanyakan lagi apakah kita masih mau dibai’at, tentu saja kita jawab mau. Akhirnya dia menuntun kita membaca Syahadat, Basmallah, lalu janji anggota NII yang dalam bahasa Arab (kita cuma ngikutin), setelah itu selesai dan dia mengucapkan selamat menjadi anggota baru NII, dan kita bisa pulang. Wah senengnya hati gw, akhirnya gw bisa istirahat, dan kita pun keluar bergabung dgn calon anggota lainnya. Kita masih harus nunggu lama sebelum benar2 pulang, kira2 saat itu sudah hampir jam 3 pagi.

Saat kita mau pulang, tiba-tiba gw diminta ke markas NII yg di Pejaten. Kebetulan yg minta itu temen gw yang ngajak masuk NII, katanya sekaligus jemput dia dan antar dia ke rumahnya. Gw langsung menuju dengan mobil gw, mobil gw dianterin oleh anak NII. Sesampainya di Pejaten, ternyata gw masih diajak diskusi, dan tema utamanya adalah ajakan kembali agar gw terus melanjutkan “hijrah” ke NII. Berhubung gw sudah melewati batas kelelahan, maka gw angguk2 aja. Dan untungnya anggukan gw ini malah meyakinkan orang2 NII bahwa gw bakal masuk ke NII.

Dan akhirnya gw bener2 pulang, dan saat itu tepat pukul 4.30 pagi. Gw coba tidur pas sesampainya di rumah, tapi tidak bisa. Dan tau ga, mujarab sekali ajakan NII, karena hari itu gw melewatkan sholah shubuh dgn sadar. Atau bisa dikatakan saking bingungnya gw, gw ga yakin mau melakukan sholat shubuh.

***

NII 9

Wednesday, October 26th, 2005

***

Kali ini kita kesana dengan mobil kijang, mobil gw dibawa salah satu Anggota NII utk menjemput mentor buat tahap lima yg kedudukannya hampir setaraf minimal camat atau setinggi-tingginya walikota, oh iya kira2 nama jabatan mereka mengikuti nama-nama nabi, seperti Musa, Ibrahim, Nuh, Daud, dll, kecuali Muhammad. Perjalanan ke rumah ini cukup bikin pusing, seinget gw, kita banyak melakukan belokan dgn radius cukup sempit, dimana itu berarti rumah ini berada jauh masuk dari jalan besar dan jalannya sempit mirip gang namun masih cukup untuk dilalui 1 kendaraan jenis kijang. Jalannya pun bergelombang tidak rata, dan beberapa kali gw merasa seperti melewati polisi tidur yg tidak mulus bentuknya. Selain suara mobil yg membawa gw, gw cuma denger suara motor tapi paling satu atau dua motor saja, sisanya sepi. Akhirnya setelah muter-muter cukup lama, gw sampai juga di rumah itu.

Nah, di rumah ini, gw tidak melihat anggota NII yg banyak selain anggota NII yg memang bertugas untuk menjadi mentor tahap berikutnya. Di tahap-tahap sebelumnya, gw masih bertemu anggota NII yg kerjaannya cuma duduk2 doang atau ngobrol doang, tapi sekarang hampir semua anggota NII jadi mentor kecuali si supir gw tadi.

Kita langsung mulai tahap berikutnya yaitu tahap 4. Dirumah ada 3 ruangan kamar, 2 besar dan satu kecil. Di ruangan yg besar, telah disulap jadi seperti ruang kelas, yaitu ada papan tulis whiteboard besar, 1 meja cukup besar, 1 rak buku dgn beberapa buku dan Al-Quran yg sudah lecek dan kusam plus jelek, dan 20 kursi lipat seperti dikampus untuk kita duduk. Kursi si mentor ada 3-4 buah.

Awalnya, dilakukan perkenalan mentor, sialnya gw lupa nama2 mereka. Tentu saja nama mereka adalah nama baru yg hanya dipakai di lingkup NII. Setelah itu giliran calon anggota yg memperkenalkan diri, awalnya dari gw, gw memperkenalkan diri bukan dgn nama asli gw tapi dgn nama baru gw, Nurcholis Abdul Amien. Nah ketika giliran calon anggota lain, mereka malah memperkenalkan diri mereka dgn nama aslinya mereka. Setelah semua memperkenalkan diri, si mentor yg duduk di belakang meja langsung bilang bahwa semua memperkenalkan diri kok dgn nama jahiliyah mereka, dan dgn nada tinggi dia bertanya bukankah kita telah diberi nama baru. Lalu dia juga bertanya apa kita semua sudah lupa. Dia bilang cuma gw yg inget nama baru gw. Ternyata dia ini sudah megang berkas perdaftaran kita yg berisi biodata calon anggota baru itu. Jadi perkenalan itu semacam ujian kecil dimana kita semua diharuskan mengingat nama baru kita demi menjaga kerahasiaan NII. Cukup lama juga dia berceramah utk mengingatkan kita akan pentingnya identitas baru kita dalam hidup di NII.

Berikutnya kita dimulai tahap ke 4 tepat setelah adzan Isya. Nah, disini yg berkoar cuma mentor yg tadi, sisa yg lain cuma duduk tenang memperhatikan kita. Sepertinya mentor yg ngomong ini punya kedudukan cukup tinggi dibanding mentor yg lain. Lagi pula dia berbadan paling atletis dibanding semua yg ada di ruangan itu. Muka mentor ini cukup putih dan ganteng, gaya bicaranya seperti orang kantoran. Logatnyanya seperti ada logat orang dari sumatera tapi juga diselingin logat sunda kasar. Dia berpakaian seperti baru pulang dari kantor (berkemeja, celana bahan, sepatu pantopel, namun sudah kurang rapih). Dia juga cukup wangi, entah pake parfum apa tapi itu cukup menandakan bahwa beliau ini orang kantoran. Dia juga gampang sekali berkeringat, bajunya cepat basah, biasanya ini menandakan bahwa dia sering diruangan ber-AC.

Dia mulai berkoar, pertama tentang reformasi, dia jelaskan bahwa anggota NII tidak ikut-ikutan berdemo reformasi karena reformasi hanya tindakan percuma dan buang tenaga. Yang harus dilakukan adalah perubahan besar RI menjadi NII. Ujung koarnya dia adalah dia menilai bahwa jika kita mati saat demo reformasi, itu hal yg percuma karena pasti kita juga tidak masuk surga, karena kita tidak meninggal krn NII. Gw tersentak, karena selain gw menghormati rekan mahasiswa yg terluka apalagi meninggal gara2 demo menentang rezim ORBA, disitu juga ada korban yaitu tetangga gw. Lalu dia menambahkan bahwa yg meninggal karena diluar Islam yang benar adalah meninggal yang sia-sia bahkan kalo kita belum hijrah, maka sama artinya kita meninggal dalam kondisi KAFIR, artinya meninggal dan langsung ke neraka. Lalu dia menggunakan ayat suci yang menyatakan bahwa kita harus meninggal dalam keadaan Islam. Semua yg ada diruangan itu menyetujuinya dgn menganggukkan kepala, kecuali gw dan satu cewek jilbab yg duduk disebelah gw, sepertinya mata niy anak geram. Si mentor mengatakan juga bahwa kita anggota NII sebaiknya menghindari perlawanan fisik dengan aparat, jadi hindari demo, satu-satunya jalan berjuang demi NII adalah bekerja sangat keras dan menjadi anggota NII (ujung-ujungnya adalah menyetor hasil kerja kita tiap bulan ke NII dgn jumlah yg cukup mencekik).

Kemudian dia berkoar tentang KAFIR nya orang yang diluar NII, lalu dia juga bilang dgn nada tegas bahwa keluarga, teman, semua orang yang diluar NII atau tidak mau masuk NII adalah KAFIR dan wajib kita perangi. Kemudian dia berkoar bahwa petinggi-petinggi agama saat ini di semua ormas yg ada adalah KAFIR atau MUNAFIK karena selain bukan NII, mereka juga bekerja sama dan hidup di negara RI, dia pun menyebut Amien Rais, GusDur, Zainudin MZ, dan banyak nama lain dgn sebutan orang-orang MUNAFIK, KAFIR dan cuma mau hidup enak di RI tanpa berjuang menegakkan syariat Islam dan mendirikan Negara Islam di Indonesia. Gw makin tercengang, dan saat itu juga gw dan cewek jilbab disebelah gw angkat tangan mau nanya. Gw mau tanya apa orang2 yg disebut tadi kalah alim dan kurang beribadah dibanding mereka yg setahu gw jarang sholat. Namun si mentor bukannya menyilahkan gw atau cewek jilbab itu bertanya namun malah meneruskan koarnya dgn nada yg cukup tinggi. Lalu dia berkoar bahwa kita harus mengajak keluarga kita masuk NII, namun sebaiknya hindari orang tua kita. Alasan dia adalah orang tua kita sudah lama dicekokin dgn negara RI jadi pasti jika tahu kita NII, maka akan marah dan menghalangi kita untuk menjadi NII. Lalu dia menambahkan bahwa itu adalah musuh Islam dan NII jadi harus diperangi. Gw makin tercengang, gw lalu angkat tangan lagi, tapi tetap dicuekin mentor itu.

Pembicaraan dilanjutkan ke permasalahan hukum Islam. Dia berkata bahwa hukum Islam adalah hukum terbaik dan terindah bagi umat manusia, dia lalu menyebut ayat suci tentang kehidupan yang Islami baik dalam kemasyarakatan maupun dalam menjalankan pemerintahan beserta aparatnya. Gw setuju dan semua calon anggota lain pun setuju juga cewek jilbab disebelah gw. Tiba-tiba si mentor itu bilang, karena kondisi kita masih dialam kungkungan Mekkah alias belum sepenuhnya dapat hijrah ke Madinah, maka kita belum diwajibkan menjalankan hukum Islam, bahkan kita harus menyesuaikan dengan norma kehidupan di masyarakat. Dan malah kita diperbolehkan mencuri barang atau uang dari orang2 diluar NII karena dianggap itu merupakan harta Allah yang harus kita rebut dari orang kafir, serta dianggap sebagai harta rampasan perang, dan untuk menguatkan dia mulai lagi membaca hadits, yang sayangnya gw lupa hadits yg dia pakai itu. Gw heran, tercengang, bingung, namun sepertinya bukan gw sendiri, tapi cewek jilbab disebelah gw juga, bahkan dia nekad bertanya apakah kita juga saat ini tidak akan mengganjar orang yang mencuri sesuai hukum Islam?? (mungkin maksudnya adalah bukankah mencuri itu diganjar dengan potong tangan si pencuri). Si mentor cuma jawab dengan mengulangi bahwa kita masih harus sembunyi-sembunyi dalam menunjukkan hukum Islam NII agar tidak dihancurkan aparat RI. Ketika itu si mentor kembali menanyakan apakah kita mau di bai’at hari ini?? Semua menjawab mau, kecuali gw dan cewek jilbab disebelah gw. Kita berdua ditanya alasannya, gw jawab kalo gw masih butuh waktu dan masih mau mendengar penjelasan lain tentang kehidupan dibawah NII tapi gw bilang gw masih mau di bai’at, sedangkan si cewek jilbab itu bilang bahwa kok makin lama NII semakin bikin bingung dan malah berbeda dgn pandangan awal dia. Dia juga bilang bahwa dia tidak mau di bai’at saat ini. Namun dia cepat2 nambahkan bahwa dia cuma butuh waktu, dan gw lihat raut mukanya seperti khawatir akan sesuatu. Akhirnya gw dan cewek itu diminta keluar ruangan dan ditemani mentor lain yg dari tadi diam saja.

***

NII eight

Wednesday, October 26th, 2005

***

Lalu mulailah tahap 3, saat ini gw ga dirumah itu lagi namun pergi ke rumah lain di daerah Cilandak yg skrg tepat dibelakang Citoz dan beberapa lagi di bawa ke fatmawati (katanya deket ITC Fatmawati). Kita kesana naek mobil gw dan sebagian lg naek mobil calon anggota lain, nah selama diperjalanan kita disuruh tutup mata, namun mungkin sial bagi mereka krn kebetulan gw saat itu yg paling gendut sehingga gw disuruh duduk didepan disamping anggota NII yg bertugas nyupirin. Sial kedua mereka, penutup mata yg mereka sediain ga cukup di gw gara2 kepala gw jg gede, akhirnya gw cuma diminta tutup mata dgn tangan sendiri. Sial berikutnya, jalan yg dilewati baik saat di jln TB Simatupang maupun pas di dalam Cilandak, gw sangat mengenalnya krn dulu gw ada temen yg rumahnya disitu. Jadi gw hapal jalannya, ditambah gw sering ngintip dari sela-sela jari gw. Markas ini tingkatannya lebih tinggi dari rumah awal tadi, krn markas itu pusat utk beberapa wilayah yg luas, Cilandak, Fatmawati, Kemang, Pondok Indah, juga Pejaten. Ada satu markas lagi yg sama di Pondok Labu, namun gw ga tau letak persisnya, yang ini membawahi wilayah Pondok Labu, Ciputat, Sawangan, Cinere, Ciganjur dll. Dirumah kedua ini persiapan tahap 3 dilakukan dgn membagi menjadi 1 mentor cuma menghadapi 2-3 orang saja, mungkin agar lebih intensif. Mentornya tetap berkedudukan seperti Lurah, namun mungkin bukan yg baru jadi lurah. Di tahap ini kita dibaurkan dgn calon anggota dari rumah2 lainnya lalu dipisah ke lain mentor. Nah saat di tahap ini adalah tahap awal proses pencucian otak kita. Si mentor dapat membuat kita menghilangkan pikiran ttg keluarga kita atau apapun yg kita lakukan dimasa lalu, bahkan ketika ada pertanyaan, mereka menjawab dengan cukup menyentuh seperti orang tua, kakek serta paman Rasulullah yg belum Islam namun Beliau tetap menghormati dan menyayangi mereka. Artinya kita diminta menganggap keluarga kita KAFIR namun kita tetap harus sayang mereka. Perlahan tapi pasti, doktrin tersebut masuk ke otak kita, bahkan calon anggota yg perempuan yg bareng gw, nangis. Proses ini diibaratkan dgn mengkokohkan batang si pohon agar dapat menjadi Jembatan yg mengalirkan kehidupan dari akar ke daun atau sebaliknya. Nah supaya kokoh ya, cuma mengikis perasaan terhadap kondisi sebelum kita jadi NII.

Di tahap 3 ini kita semua seperti dibalikkan ke Islam yang benar, mereka bener2 sholat jamaah Ashar lalu saat Maghrib juga, dengan Imam dari mereka yg bacaannya sangat indah. Setelah sholat pun mereka sedikit ngasih kultum yang ga nyimpang, seperti berbaiklah kepada sesama manusia, jangan mengumbar nafsu apalagi nafsu birahi, hindari judi dan hal-hal yang memabukkan (miras dan narkoba). Lalu mereka menyediakan makan siang nasi kotak yg lumayan lezat, mungkin ini juga gara2 gorengan sial yg bukannya ganjel perut malah bikin perut merasa kurang kenyang. Lalu kita juga giliran baca beberapa ayat yg memang spesial jadi bagian doktrin mereka dengan membaca Arabnya langsung. Bahkan si mentor membetulkan dan membantu jika lafal kita salah atau terbata-bata. Tapi ingat, kita justru dibuat bahwa sekalipun kita sudah melakukan sholat, denger ceramah yg baik, juga tadarus, tetap kita merasa kurang, bahkan merasa depresi kita bertambah. Yaitu dgn kata2 retorik seperti : Seharusnya kita semua setelah menjalankan ibadah (tadi), kita menjadi lebih rileks, namun benarkah itu terjadi??? Gw dalam hati jujur aja bilang sekalipun gw dah sholat, denger kultum bagus, bahkan tadarus dgn baik serta mempelajari arti ayat itu, kok tetep depresi gw ga hilang bahkan tidak berkurang. Dan gw yakin semua yang ada disitu sama dengan gw, karena raut muka kita tidak berubah menjadi sumringah.

Ditahap ini juga, gw tahu bahwa setelah kita di bai’at jadi anggota NII, maka kita bukan berarti menarik diri dari masyarakat namun justru harus terus berkiprah dimasyarakat dgn tidak terlalu mencolok, anggap seperti agen rahasia buat NII, cuma bedanya kita mendengar informasi bukan dari pemerintah saja tapi juga dari obrolan ibu-ibu saat arisan hingga obrolan para pembantu rumah tangga saat mereka beli sayur. Disini juga kita diulang lagi akan dasar2 NII seperti tahap 1 dan 2.

Akhirnya para mentor sedikit bocorin akan menariknya tahap 4 dan 5 dimana kita akan lebih mengenal NII serta kebenaran-kebenaran yang terkuak beserta bumbu2nya. Mentor gw bilang bahwa nanti akan dijelaskan pemikiran-pemikiran NII dalam proses Reformasi, metode penerapan Syariat Islam di Indonesia, Hubungan pernikahan dalam kacamata Ibadah, dll… maap gw lupa yang lainnya. Tapi memang bener, gw makin tertarik apalagi euforia demo reformasi masih berdebar keras di diri gw. Gw belum pernah melewatkan setiap demo reformasi menggulingkan presiden Soeharto, baik saat berhadapan langsung dgn aparat polisi maupun saat demo damai. Dan saat kasus Trisakti, memang gw ga ada saat penembakan, namun sebelumnya gw dari trisakti dan dalam perjalanan balik menuju salemba. Di tahap 3 ini adalah tahap paling berkesan, eh iya di rumah ini juga gw berkenalan dgn anggota NII yg cukup cantik dan ngobrol lama dgn gw. Nama NII-nya adalah Nurfitriyah, entah nama aslinya dia. Dia seorang mahasiswa D3 yang sudah lulus dan baru mau masuk kerja. Beda dgn dimana ungkapan ada gula banyak semut, yaitu ada yg cantik pasti banyak cowok yang ngedeketin, saat itu murni cuma gw yg deketin anak itu, bahkan sepertinya anggota NII yang cowok seperti tidak memperhatikan gadis cantik itu.

Setelah sholat Maghrib, kita semua diminta cepat bereskan barang bawaan kita karena kita semua akan di bawa ke rumah lain lagi dimana katanya rumah ini adalah markas besar NII Jakarta Selatan dimana mereka sudah cukup lama memakai rumah itu. Letak rumah itu benar2 jauh dari jalan utama, namun letaknya dekat Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut. Masuknya persis dekat jalan yg menurun itu. Namun saat itu persiapan mereka lengkap, jadi gw sekarang dapat penutup mata yg pas dan cukup gelap.

***

NII tujuh

Wednesday, October 26th, 2005

***

Kemudian masuk proses kedua ditempat yg sama. Proses ini ibarat menyiapkan bakal pohon seperti akar yg kuat dan sehat. Isinya adalah pemantapan pemahaman ttg perjuangan NII dengan diperkuat beberapa ayat. Contohnya adalah bahwa gerakan NII itu masih harus sembunyi-sembunyi bak didalam gua atau berselimut seperti yg dilakukan Rasulullah diawal menerima wahyu, dimana Beliau hanya menyampaikan kepada kerabat dekat hingga turun surat Al-Muzammil (Orang berselimut). Nah kata mentor itu, saat ini ibarat surat Al-Muzammil belum turun dimana itu adalah siasat agar kita tidak langsung diperang secara frontal oleh orang di luar NII, namun herannya sampai tahun 2005 kok tetep harus sembunyi2, kalo kelamaan sembunyi2 khan keburu lewat abad 21 Masehi-nya…betul ga??? Lalu dia juga memaparkan dimana gua yg gelap adalah tempat yg aman, ibarat saat Rasulullah dan Sahabat Abu Bakar bersembunyi di gua saat dikejar2 pemuda Mekkah yg berniat membunuh Rasulullah. Gua itu terlihat gelap dari luar sehingga orang diluar tidak tahu keberadaan kita namun orang di dalam gua bisa tahu apa yg dikerjakan orang diluar gua karena diluar gua sangat terang. Belum lagi pengamanan akan kerahasiaan NII disamakan dgn sarang laba2 yg terbentuk persis di mulut gua sehingga menyebabkan para pemuda Mekkah sok yakin bahwa Rasulullah tidak ada di dalam gua. Kira2 semua itu logis dan sangat mirip dgn Al-Quran atau pun hadits khan??? Proses kedua ini berlangsung lamaan dikit kira2 2 jam-an. Nah, saat itu gw mo izin sholat Dzuhur, namun tidak diperbolehkan dgn alasan saat itu sholat tidak dilakukan secara terang2an oleh Rasulullah agar tidak mencurigakan orang awam Mekkah. Kaget gw, akhirnya gw pun tidak sholat Dzuhur. Mentor di tahap 2 kira2 setara dgn lurah di masyarakat. Setelah tahap 2, kita istirahat dan minum teh manis serta beberapa gorengan yg uangnya bukan dari mereka namun kolekan dari calon anggota baru, bahkan gorengan pun dibilang kita sudah menyumbang atau ibadah demi Islam karena mereka pakai Hadits bahwa ibadah termurah adalah senyum ke orang lain. Nah, jadi jelas gorengan lebih mahal dari senyuman… hahaha… bener khan seenak udel mereka.

***

NII Enam

Wednesday, October 26th, 2005

Selama Proses Pembai’atan : Besoknya gw kembali, nah gw langsung diajak diskusi dgn si anak NII yg ngajak ngobrol gw pertama kali, para anggota NII itu hebat2 lho, mereka pagi2 sudah pada rapih. Gw dateng tepat jam 7.30 pagi. Dia ini mulai berkoar ttg berapa banyak bayaran yg gw keluarkan demi kewajiban serta sunah dalam tahun-tahun lalu. Dia bercerita ttg zakat (Fitrah, Maal), Qurban, Shodaqoh, dan Infak. Dia berilustrasi, kira2 harga satu kambing untuk qurban adalah 400-an ribu rupiah (saat itu lebih mahal), lalu zakat Fitrah dan zakat maal dimana kita harus mengeluarkan 2,5 %nya (namun entah dia lupa atau sengaja dilewatkan, bahwa zakat Maal dikeluarkan jika kita pribadi mempunyai sisa kekayaan (tabungan) yg telah melampaui hisab kekayaan dan itu setelah dikurangi semua kebutuhan pokok serta kewajiban kita seperti pajak, iuran dll, tapi dia cuma bilang 2,5% dari tabungan kita). Trus zakat Maal itu 2,5% dari tabungan, jadi jika minimal tabungan kita ada 1juta rupiah, kita wajib mengeluarkan 2,5%nya. Namun calon anggota baru itu selalu dr kalangan masyarakat menengah hingga atas atau karyawan yg pasti punya tabungan melebihi 1 juta bahkan mungkin mencapai puluhan juta. Kebetulan saat itu tabungan gw baru menggelembung menjadi 10 jt krn usaha gw dan temen gw yg dapet untung besar. Sayangnya saat ini tabungan gw makin menipis…hehehe… kok jadi curhat… Jadi saat itu gw harus ngeluarin zakat Maal 250 ribu. Lalu dia bilang, berapa kira2 gw masukkin kotak masjid tiap sholat jumat. Dia bilang rugi ga kalo gw keluarin 5000 tiap Jumat??? Gw jawab ga rugi, nah dia mulai menghitung kalo setahun berapa, anggap 52 minggu kali 5000 jadi 260 ribu gw keluarin dalam 1 tahun. Setelah di total, maka kewajiban gw adl 400 ribu ditambah 250 ribu utk zakat dan tambahan 260 ribu utk shodaqoh dalam 1 tahun. Lalu dia menyodorkan kertas berisi data diri yg harus kita isi serta perjanjian kesanggupan kita melunasi kewajiban “agama” kita berupa zakat serta menyempurnakan dgn shodaqohnya selama 1 tahun namun dibayar dimuka, disurat perjanjian itu bukan bermaterai namun berlatar belakang tulisan Bismillahirrohmanirrohim atau Dengan nama Allah yg Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hebat ga??? Lebih surgawi yah??? Lalu dia bertanya apa siangnya gw bisa bawa uang sejumlah itu??? Wah kaget gw, memang sih di tabung ada, namun apa ga kaget kalo kita langsung ngeluarin uang dalam jumlah banyak sekalipun dgn embel2 cuma setahun sekali. Namun gw sanggupin cuma 800 ribu. Dia senang gw bisa nyanggupin maka hari itulah gw langsung masuk proses bai’at tanpa harus lewat 2x lagi pengajian awal. Dia langsung jelasin proses bai’at. Menjelang Dzuhur, gw di ajak untuk melakukan proses bai’at tahap 1. proses ini tetap dilakukan di rumah yg sama dgn mentor seorang yg kira2 berkedudukan seperti ketua rw di masyarakat kita. Orang itu rapih, ramah, santun dan cukup komunikatif. Dia Cuma mengulang ttg sejarah yg seperti huruf W kemaren, namun ditambah makin banyak kata2 yg meyakinkan bahwa NII itu benar. Proses ini gw lakukan beserta para peserta baru lainnya minus temen gw yg memang sudah anggota. Diproses ini juga kita berkenalan satu sama lain, lalu si mentor berusaha agar kita saling mengenal cukup dekat serta memuji hal2 yg pernah kita kerjakan terdahulu mungkin beberapa prestasi kita dahulu dia puji. Proses ini bisa dikatakan seperti persiapan penanaman pohon, yaitu kita menggali dan menggemburkan tanah tempat pohon akan tumbuh. Proses ini kira2 hampir 1,5 jam lewat dikit. Di tahap ini, gw dapat nama baru, yang menjadi nama selama gw di lingkungan NII dengan alasan nama lahir kita sudah tercatat di negara RI jadi kita musti mendaftarkan nama baru buat NII. Dulu kalo ga salah gw milih nama Nurcholis Abduh Amien (diambil dari bapak Nurcholis Madjid, bapak Amien Rais, dan bapak Muhammad Abduh, tokoh pembaharu dari Mesir). Lalu biodata yg tadi gw tulis, dia salin ke form yg bertuliskan huruf Arab gundul termasuk nama baru gw. Nah di form ini juga dimasukkan keterangan akan berapa banyak anggota keluarga gw yang TNI atau polisi, dan seberapa dekat hubungannya dengan gw.