NII 9
***
Kali ini kita kesana dengan mobil kijang, mobil gw dibawa salah satu Anggota NII utk menjemput mentor buat tahap lima yg kedudukannya hampir setaraf minimal camat atau setinggi-tingginya walikota, oh iya kira2 nama jabatan mereka mengikuti nama-nama nabi, seperti Musa, Ibrahim, Nuh, Daud, dll, kecuali Muhammad. Perjalanan ke rumah ini cukup bikin pusing, seinget gw, kita banyak melakukan belokan dgn radius cukup sempit, dimana itu berarti rumah ini berada jauh masuk dari jalan besar dan jalannya sempit mirip gang namun masih cukup untuk dilalui 1 kendaraan jenis kijang. Jalannya pun bergelombang tidak rata, dan beberapa kali gw merasa seperti melewati polisi tidur yg tidak mulus bentuknya. Selain suara mobil yg membawa gw, gw cuma denger suara motor tapi paling satu atau dua motor saja, sisanya sepi. Akhirnya setelah muter-muter cukup lama, gw sampai juga di rumah itu.
Nah, di rumah ini, gw tidak melihat anggota NII yg banyak selain anggota NII yg memang bertugas untuk menjadi mentor tahap berikutnya. Di tahap-tahap sebelumnya, gw masih bertemu anggota NII yg kerjaannya cuma duduk2 doang atau ngobrol doang, tapi sekarang hampir semua anggota NII jadi mentor kecuali si supir gw tadi.
Kita langsung mulai tahap berikutnya yaitu tahap 4. Dirumah ada 3 ruangan kamar, 2 besar dan satu kecil. Di ruangan yg besar, telah disulap jadi seperti ruang kelas, yaitu ada papan tulis whiteboard besar, 1 meja cukup besar, 1 rak buku dgn beberapa buku dan Al-Quran yg sudah lecek dan kusam plus jelek, dan 20 kursi lipat seperti dikampus untuk kita duduk. Kursi si mentor ada 3-4 buah.
Awalnya, dilakukan perkenalan mentor, sialnya gw lupa nama2 mereka. Tentu saja nama mereka adalah nama baru yg hanya dipakai di lingkup NII. Setelah itu giliran calon anggota yg memperkenalkan diri, awalnya dari gw, gw memperkenalkan diri bukan dgn nama asli gw tapi dgn nama baru gw, Nurcholis Abdul Amien. Nah ketika giliran calon anggota lain, mereka malah memperkenalkan diri mereka dgn nama aslinya mereka. Setelah semua memperkenalkan diri, si mentor yg duduk di belakang meja langsung bilang bahwa semua memperkenalkan diri kok dgn nama jahiliyah mereka, dan dgn nada tinggi dia bertanya bukankah kita telah diberi nama baru. Lalu dia juga bertanya apa kita semua sudah lupa. Dia bilang cuma gw yg inget nama baru gw. Ternyata dia ini sudah megang berkas perdaftaran kita yg berisi biodata calon anggota baru itu. Jadi perkenalan itu semacam ujian kecil dimana kita semua diharuskan mengingat nama baru kita demi menjaga kerahasiaan NII. Cukup lama juga dia berceramah utk mengingatkan kita akan pentingnya identitas baru kita dalam hidup di NII.
Berikutnya kita dimulai tahap ke 4 tepat setelah adzan Isya. Nah, disini yg berkoar cuma mentor yg tadi, sisa yg lain cuma duduk tenang memperhatikan kita. Sepertinya mentor yg ngomong ini punya kedudukan cukup tinggi dibanding mentor yg lain. Lagi pula dia berbadan paling atletis dibanding semua yg ada di ruangan itu. Muka mentor ini cukup putih dan ganteng, gaya bicaranya seperti orang kantoran. Logatnyanya seperti ada logat orang dari sumatera tapi juga diselingin logat sunda kasar. Dia berpakaian seperti baru pulang dari kantor (berkemeja, celana bahan, sepatu pantopel, namun sudah kurang rapih). Dia juga cukup wangi, entah pake parfum apa tapi itu cukup menandakan bahwa beliau ini orang kantoran. Dia juga gampang sekali berkeringat, bajunya cepat basah, biasanya ini menandakan bahwa dia sering diruangan ber-AC.
Dia mulai berkoar, pertama tentang reformasi, dia jelaskan bahwa anggota NII tidak ikut-ikutan berdemo reformasi karena reformasi hanya tindakan percuma dan buang tenaga. Yang harus dilakukan adalah perubahan besar RI menjadi NII. Ujung koarnya dia adalah dia menilai bahwa jika kita mati saat demo reformasi, itu hal yg percuma karena pasti kita juga tidak masuk surga, karena kita tidak meninggal krn NII. Gw tersentak, karena selain gw menghormati rekan mahasiswa yg terluka apalagi meninggal gara2 demo menentang rezim ORBA, disitu juga ada korban yaitu tetangga gw. Lalu dia menambahkan bahwa yg meninggal karena diluar Islam yang benar adalah meninggal yang sia-sia bahkan kalo kita belum hijrah, maka sama artinya kita meninggal dalam kondisi KAFIR, artinya meninggal dan langsung ke neraka. Lalu dia menggunakan ayat suci yang menyatakan bahwa kita harus meninggal dalam keadaan Islam. Semua yg ada diruangan itu menyetujuinya dgn menganggukkan kepala, kecuali gw dan satu cewek jilbab yg duduk disebelah gw, sepertinya mata niy anak geram. Si mentor mengatakan juga bahwa kita anggota NII sebaiknya menghindari perlawanan fisik dengan aparat, jadi hindari demo, satu-satunya jalan berjuang demi NII adalah bekerja sangat keras dan menjadi anggota NII (ujung-ujungnya adalah menyetor hasil kerja kita tiap bulan ke NII dgn jumlah yg cukup mencekik).
Kemudian dia berkoar tentang KAFIR nya orang yang diluar NII, lalu dia juga bilang dgn nada tegas bahwa keluarga, teman, semua orang yang diluar NII atau tidak mau masuk NII adalah KAFIR dan wajib kita perangi. Kemudian dia berkoar bahwa petinggi-petinggi agama saat ini di semua ormas yg ada adalah KAFIR atau MUNAFIK karena selain bukan NII, mereka juga bekerja sama dan hidup di negara RI, dia pun menyebut Amien Rais, GusDur, Zainudin MZ, dan banyak nama lain dgn sebutan orang-orang MUNAFIK, KAFIR dan cuma mau hidup enak di RI tanpa berjuang menegakkan syariat Islam dan mendirikan Negara Islam di Indonesia. Gw makin tercengang, dan saat itu juga gw dan cewek jilbab disebelah gw angkat tangan mau nanya. Gw mau tanya apa orang2 yg disebut tadi kalah alim dan kurang beribadah dibanding mereka yg setahu gw jarang sholat. Namun si mentor bukannya menyilahkan gw atau cewek jilbab itu bertanya namun malah meneruskan koarnya dgn nada yg cukup tinggi. Lalu dia berkoar bahwa kita harus mengajak keluarga kita masuk NII, namun sebaiknya hindari orang tua kita. Alasan dia adalah orang tua kita sudah lama dicekokin dgn negara RI jadi pasti jika tahu kita NII, maka akan marah dan menghalangi kita untuk menjadi NII. Lalu dia menambahkan bahwa itu adalah musuh Islam dan NII jadi harus diperangi. Gw makin tercengang, gw lalu angkat tangan lagi, tapi tetap dicuekin mentor itu.
Pembicaraan dilanjutkan ke permasalahan hukum Islam. Dia berkata bahwa hukum Islam adalah hukum terbaik dan terindah bagi umat manusia, dia lalu menyebut ayat suci tentang kehidupan yang Islami baik dalam kemasyarakatan maupun dalam menjalankan pemerintahan beserta aparatnya. Gw setuju dan semua calon anggota lain pun setuju juga cewek jilbab disebelah gw. Tiba-tiba si mentor itu bilang, karena kondisi kita masih dialam kungkungan Mekkah alias belum sepenuhnya dapat hijrah ke Madinah, maka kita belum diwajibkan menjalankan hukum Islam, bahkan kita harus menyesuaikan dengan norma kehidupan di masyarakat. Dan malah kita diperbolehkan mencuri barang atau uang dari orang2 diluar NII karena dianggap itu merupakan harta Allah yang harus kita rebut dari orang kafir, serta dianggap sebagai harta rampasan perang, dan untuk menguatkan dia mulai lagi membaca hadits, yang sayangnya gw lupa hadits yg dia pakai itu. Gw heran, tercengang, bingung, namun sepertinya bukan gw sendiri, tapi cewek jilbab disebelah gw juga, bahkan dia nekad bertanya apakah kita juga saat ini tidak akan mengganjar orang yang mencuri sesuai hukum Islam?? (mungkin maksudnya adalah bukankah mencuri itu diganjar dengan potong tangan si pencuri). Si mentor cuma jawab dengan mengulangi bahwa kita masih harus sembunyi-sembunyi dalam menunjukkan hukum Islam NII agar tidak dihancurkan aparat RI. Ketika itu si mentor kembali menanyakan apakah kita mau di bai’at hari ini?? Semua menjawab mau, kecuali gw dan cewek jilbab disebelah gw. Kita berdua ditanya alasannya, gw jawab kalo gw masih butuh waktu dan masih mau mendengar penjelasan lain tentang kehidupan dibawah NII tapi gw bilang gw masih mau di bai’at, sedangkan si cewek jilbab itu bilang bahwa kok makin lama NII semakin bikin bingung dan malah berbeda dgn pandangan awal dia. Dia juga bilang bahwa dia tidak mau di bai’at saat ini. Namun dia cepat2 nambahkan bahwa dia cuma butuh waktu, dan gw lihat raut mukanya seperti khawatir akan sesuatu. Akhirnya gw dan cewek itu diminta keluar ruangan dan ditemani mentor lain yg dari tadi diam saja.
***