NII eight

***

Lalu mulailah tahap 3, saat ini gw ga dirumah itu lagi namun pergi ke rumah lain di daerah Cilandak yg skrg tepat dibelakang Citoz dan beberapa lagi di bawa ke fatmawati (katanya deket ITC Fatmawati). Kita kesana naek mobil gw dan sebagian lg naek mobil calon anggota lain, nah selama diperjalanan kita disuruh tutup mata, namun mungkin sial bagi mereka krn kebetulan gw saat itu yg paling gendut sehingga gw disuruh duduk didepan disamping anggota NII yg bertugas nyupirin. Sial kedua mereka, penutup mata yg mereka sediain ga cukup di gw gara2 kepala gw jg gede, akhirnya gw cuma diminta tutup mata dgn tangan sendiri. Sial berikutnya, jalan yg dilewati baik saat di jln TB Simatupang maupun pas di dalam Cilandak, gw sangat mengenalnya krn dulu gw ada temen yg rumahnya disitu. Jadi gw hapal jalannya, ditambah gw sering ngintip dari sela-sela jari gw. Markas ini tingkatannya lebih tinggi dari rumah awal tadi, krn markas itu pusat utk beberapa wilayah yg luas, Cilandak, Fatmawati, Kemang, Pondok Indah, juga Pejaten. Ada satu markas lagi yg sama di Pondok Labu, namun gw ga tau letak persisnya, yang ini membawahi wilayah Pondok Labu, Ciputat, Sawangan, Cinere, Ciganjur dll. Dirumah kedua ini persiapan tahap 3 dilakukan dgn membagi menjadi 1 mentor cuma menghadapi 2-3 orang saja, mungkin agar lebih intensif. Mentornya tetap berkedudukan seperti Lurah, namun mungkin bukan yg baru jadi lurah. Di tahap ini kita dibaurkan dgn calon anggota dari rumah2 lainnya lalu dipisah ke lain mentor. Nah saat di tahap ini adalah tahap awal proses pencucian otak kita. Si mentor dapat membuat kita menghilangkan pikiran ttg keluarga kita atau apapun yg kita lakukan dimasa lalu, bahkan ketika ada pertanyaan, mereka menjawab dengan cukup menyentuh seperti orang tua, kakek serta paman Rasulullah yg belum Islam namun Beliau tetap menghormati dan menyayangi mereka. Artinya kita diminta menganggap keluarga kita KAFIR namun kita tetap harus sayang mereka. Perlahan tapi pasti, doktrin tersebut masuk ke otak kita, bahkan calon anggota yg perempuan yg bareng gw, nangis. Proses ini diibaratkan dgn mengkokohkan batang si pohon agar dapat menjadi Jembatan yg mengalirkan kehidupan dari akar ke daun atau sebaliknya. Nah supaya kokoh ya, cuma mengikis perasaan terhadap kondisi sebelum kita jadi NII.

Di tahap 3 ini kita semua seperti dibalikkan ke Islam yang benar, mereka bener2 sholat jamaah Ashar lalu saat Maghrib juga, dengan Imam dari mereka yg bacaannya sangat indah. Setelah sholat pun mereka sedikit ngasih kultum yang ga nyimpang, seperti berbaiklah kepada sesama manusia, jangan mengumbar nafsu apalagi nafsu birahi, hindari judi dan hal-hal yang memabukkan (miras dan narkoba). Lalu mereka menyediakan makan siang nasi kotak yg lumayan lezat, mungkin ini juga gara2 gorengan sial yg bukannya ganjel perut malah bikin perut merasa kurang kenyang. Lalu kita juga giliran baca beberapa ayat yg memang spesial jadi bagian doktrin mereka dengan membaca Arabnya langsung. Bahkan si mentor membetulkan dan membantu jika lafal kita salah atau terbata-bata. Tapi ingat, kita justru dibuat bahwa sekalipun kita sudah melakukan sholat, denger ceramah yg baik, juga tadarus, tetap kita merasa kurang, bahkan merasa depresi kita bertambah. Yaitu dgn kata2 retorik seperti : Seharusnya kita semua setelah menjalankan ibadah (tadi), kita menjadi lebih rileks, namun benarkah itu terjadi??? Gw dalam hati jujur aja bilang sekalipun gw dah sholat, denger kultum bagus, bahkan tadarus dgn baik serta mempelajari arti ayat itu, kok tetep depresi gw ga hilang bahkan tidak berkurang. Dan gw yakin semua yang ada disitu sama dengan gw, karena raut muka kita tidak berubah menjadi sumringah.

Ditahap ini juga, gw tahu bahwa setelah kita di bai’at jadi anggota NII, maka kita bukan berarti menarik diri dari masyarakat namun justru harus terus berkiprah dimasyarakat dgn tidak terlalu mencolok, anggap seperti agen rahasia buat NII, cuma bedanya kita mendengar informasi bukan dari pemerintah saja tapi juga dari obrolan ibu-ibu saat arisan hingga obrolan para pembantu rumah tangga saat mereka beli sayur. Disini juga kita diulang lagi akan dasar2 NII seperti tahap 1 dan 2.

Akhirnya para mentor sedikit bocorin akan menariknya tahap 4 dan 5 dimana kita akan lebih mengenal NII serta kebenaran-kebenaran yang terkuak beserta bumbu2nya. Mentor gw bilang bahwa nanti akan dijelaskan pemikiran-pemikiran NII dalam proses Reformasi, metode penerapan Syariat Islam di Indonesia, Hubungan pernikahan dalam kacamata Ibadah, dll… maap gw lupa yang lainnya. Tapi memang bener, gw makin tertarik apalagi euforia demo reformasi masih berdebar keras di diri gw. Gw belum pernah melewatkan setiap demo reformasi menggulingkan presiden Soeharto, baik saat berhadapan langsung dgn aparat polisi maupun saat demo damai. Dan saat kasus Trisakti, memang gw ga ada saat penembakan, namun sebelumnya gw dari trisakti dan dalam perjalanan balik menuju salemba. Di tahap 3 ini adalah tahap paling berkesan, eh iya di rumah ini juga gw berkenalan dgn anggota NII yg cukup cantik dan ngobrol lama dgn gw. Nama NII-nya adalah Nurfitriyah, entah nama aslinya dia. Dia seorang mahasiswa D3 yang sudah lulus dan baru mau masuk kerja. Beda dgn dimana ungkapan ada gula banyak semut, yaitu ada yg cantik pasti banyak cowok yang ngedeketin, saat itu murni cuma gw yg deketin anak itu, bahkan sepertinya anggota NII yang cowok seperti tidak memperhatikan gadis cantik itu.

Setelah sholat Maghrib, kita semua diminta cepat bereskan barang bawaan kita karena kita semua akan di bawa ke rumah lain lagi dimana katanya rumah ini adalah markas besar NII Jakarta Selatan dimana mereka sudah cukup lama memakai rumah itu. Letak rumah itu benar2 jauh dari jalan utama, namun letaknya dekat Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut. Masuknya persis dekat jalan yg menurun itu. Namun saat itu persiapan mereka lengkap, jadi gw sekarang dapat penutup mata yg pas dan cukup gelap.

***

Leave a Reply