nikah 2
Saturday, January 20th, 2007Dadaku terasa sesak…
Sore hari setelah paginya aku mencuci kereta kudaku (mobil coy), aku benar-benar tidak ada kerjaan. Aku hanya mengistirahatkan otakku, namun gagal karena otakku berfikir, mengapa tidak telpon beberapa teman (cewek tentunya). Pertama ku telpon juniorku. Aku telpon ke esianya biar irit, kita bicara kurang lebih 1 jam. Banyak hal yg dibicarakan mulai tentang daerah rumahnya hingga pujian2 gombal dari gw. Tapi temenku yang satu ini memang layak dipuji, pertama selain secara fisik cantik, tapi dia merupakan teman yang sangat hangat. Namun ujung2nya aku dapat kabar sedikit buruk, yaitu dia ingin ganti suasana kuliah, alias pindah tempat. Wah kacau, yah memang kacau buatku tapi mungkin berkah untuk temanku. Tapi tetap saja diriku tidak ingin temanku pindah.
Lalu kutelpon temanku yang lainnya, dia sobatku, bahkan mungkin juga aku masih berharap dia bisa menjadi kekasihku sampai akhir hayat. Awalnya aku tidak yakin akan berhasil telpon temanku ini, karena sudah lama aku gagal menghubunginya. Namun… Allah memberikan berkah-Nya, aku berhasil menghubungi dia. Tentu aku jadi salah tingkah, maklum saat itu yang ada di otakku Cuma, “Hai, pha kabar? Dah lama ga ketemu, kangen nih…” yup Cuma beberapa kata dan Cuma 35 huruf. Otakku kupaksa berfikir keras, agar aku bisa berbicara lebih lama lagi. Berhasil, aku bicara hingga 30 menit. Dalam pembicaraanku, aku nekad bertanya apakah dia telah berpasangan, dan sejauh mana hubungannya.
Dan syok… aku mendapatkan jawaban yang sangat tidak aku inginkan, aku hilang kata-kata. Dia jelas sudah berpasangan dan akan menikah secepatnya. Tentu aku sangat-sangat bingung. Untungnya dia yang membuka pembicaraan selanjutnya, namun sayangnya yang dibicarakan adalah tentang diriku yang saat ini sedang menikmati masa lajang (lajang kok dinikmati, apa enaknya). Dia bertanya, kenapa diriku tidak cari pasangan dan mencoba berserius? Sungguh pertanyaan yang kritis (kritis buatku…hehehe). Aku menjawab dengan jujur bahwa saat ini memang aku sedang lajang ah jomblo deh. Kedua aku baru saja menikmati capeknya kerja, dan yang terakhir adalah aku sok mempunyai kriteria cewek yang tinggi.
Memang aku pernah mendengar orang pujangga bijak berpetuah, “janganlah kamu cari seseorang pasangan yang sempurna namun carilah pasangan yang menyempurnakanmu, karena saling menyempurnakan adalah langkah awal membangun mahligai rumah tangga yang idaman.” Namun aku tetap sok mencari yang sempurna, jauh jika dibandingkan diriku. Tapi setelah berbicara dengan temanku, aku teringat akan kata2 sahabatku dulu. Kita orang Islam punya tauladan dalam diri Baginda Rasulullah, termasuk cara kita menentukan kriteria pasangan kita. Sabda Rasulullah adalah, hendaknya kita cari pasangan dengan berdasar 4 perkara, yaitu fisiknya, harta atau keturunannya, ilmunya dan agamanya. Buat siapapun fisik seseorang akan mempengaruhi penilaian, apakah akan kita pilih orang yang berfisik tidak kekurangan (alias cacat) namun dia tidak menjaganya (misalnya dia merusak dengan menggunakan obat2an terlarang)? Lalu apakah akan kita pilih orang yang berpenghasilan cukup namun dia selalu berfoya-foya hingga banyak hutang serta keturunan baik namun dia tidak menjaganya? Lalu apakah kita pilih orang yang berpendidikan namun isinya kosong? Akhirnya mungkin kita punya beberapa calon pasangan yang memenuhi 3 kriteria awal diatas, nah kriteria terakhirlah yang menjadi kunci segalanya. Karena buat laki-laki, wanita itu adalah tanggungan kita dan sekaligus ujian bagi kita. Nah 3 kriteria awal, akan menghasilkan calon pasangan yang mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi, yaitu orang cantik akan susah menjaganya dan pemeliharaan kecantikannya, orang kaya akan susah dalam pemenuhan standar hidupnya, orang pintar akan susah apabila hendak kita berikan usul akan suatu hal. Akan tetapi, hanya dengan kriteria ke-4 maka, ujian ini mungkin akan lebih ringan. Pasangan cantik, dia sholehah maka dia akan menundukkan kecantikannya cuma untuk pasangannya. Pasangan kaya dan dari keturunan baik, dia sholehah maka dia akan menjaga kekayaannya dan keturunannya kelak dan membantu serta mendorong kekayaan saat berpasangan kelak. Pasangan pintar, dia sholehah maka dia akan mempertimbangkan segala halnya dengan masak-masak dan mempertimbangkan masukkan dari berbagai pihak dengan bijak.
Akhirnya jika pasangan kita sholehah, maka kenikmatan rumah tanggalah yang akan kita dapatkan.
Namun ada yang harus diingat. Allah berfirman, bahwa telah diciptakan kita berpasang-pasangan, dan diciptakan pasangan dari golonganmu sendiri serta istri-istri yang baik hanya untuk suami yang baik. Oleh karena itu pula, saat aku telpon temanku ini, aku sadar, bahwa diriku yang mengharapkan pasangan yang sempurna, akan susah karena aku yakin aku belum berusaha memperbaiki diriku demi mendekati kesempurnaan. Dan saat itu pula, aku beritahu temanku yang cantik itu, bahwa aku saat ini sedang memperbaiki diri atau tepatnya berusaha memulai memperbaiki diri, sehingga jika aku berani dan aku siap, aku mungkin melakukan kenekadanku yaitu melamar temanku itu.
Akan tetapi, berita bahwa dia telah berpasangan dan mungkin juga akan melangsungkan pernikahan, membuatku limbung, untungnya aku sadar bahwa aku percaya Allah akan memberikan yang terbaik untukku jika aku berusaha terus memperbaiki diriku. Oleh karena itu harapanku adalah aku bisa bersanding dengan temanku ini dalam merajut kehidupan berkeluarga dan membuatku semakin rajin beribadah.
Tentu saja, hasil akhir pembicaraanku hanyalah aku mengetahui kabar temanku, namun setidaknya pembicaraan itu juga mengingatkan kembali akan diriku untuk terus memperbaiki diri.
Yup… another tulisan sok tau gw.