NII satoe

August 4th, 2005 by chodoc

Negara Islam Indonesia (NII) benarkah itu menyimpang???

Gw coba singkat jadi NII aja yah biar mudah. NII telah menjadi momok menakutkan dalam kehidupan masyarakat dan juga bernegara. Berbeda dgn PKI, dimana PKI sangat gampang diberangus baik dgn alasan agama maupun alasan kemanusiaan. NII sangat susah diberangus, karena NII juga ”menggunakan” Kitab Suci Al-Quran, dan bahkan juga secara kemanusiaan karena secara rata-rata orang yg ”kejeblos” di NII berpenampilan sangat baik di masyarakat, apalagi jika mereka sudah punya kedudukan di NII, dimasyarakat pasti mereka semakin tidak mau terlalu dikenal apalagi dikenal ga baik.

Gw sedikit mau bagi pengalaman buruk gw selagi di ”paksa” gabung dgn NII dulu. Mungkin detailnya gw sudah lupa namun secara garis besar gw bisa share deh.

Kira-kira gw kenanya pas tahun 1999. Tepat setahun setelah peristiwa berdarah Trisakti yg mengkorbankan 5 mahasiswanya demi tercapai reformasi di bumi Indonesia, salah satu dari yg gugur adalah tetangga gw. Gw ceritanya mulai dari kondisi gw saat itu dan juga proses yg gw alami.

Pertama : Kondisi yang Memacu Masuk NII.

Kondisi ini adalah yg harus diwaspadai, karena selama gw di NII, banyak anggota baru yg masuk krn alasan2 kondisi mirip gw dulu. Pertama, saat itu gw sedang depresi berat dan seperti hilang arah. Di awali dgn hubungan dgn lawan jenis, gampangnya gw baru aja gagal dlm pacaran. Budaya kita yg meng”haram”kan cowok utk sedih dan menangis justru membuat gw makin depresi, banyak banget komentar ke diri gw bahwa cewe itu masih banyak. Trus gw juga depresi akibat semakin lama gw semakin ga di reken eh… bahasa Indo nya ”dicuekin” ama lingkungan gw, saat itu memang bukan dr keluarga tapi justru dari temen2 gw. Dan terakhir depresi dgn kondisi kuliah gw, alias nilai gw yg buruk. Eh, nambah lagi, depresi dgn keluarga juga, tapi waktu itu justru bukan dgn keluarga deket gw seperti Bo-Nyok atau adik atau tante-om, tapi dgn sepupu gw. Namun depresi yg terakhir bukan karena gw marahan justru gw depresi krn ga terlalu bisa nolong sepupu gw dalam masalah yg dia hadapi.

Nah, itu kondisi depresi yg umum dialami oleh calon anggota baru NII, yaitu keluarga, cinta, lingkungan sekitar (teman) serta kondisi kuliah atau kerja.

Tapi saat itu gw syukur ga terlibat dgn NARKOBA, gw merasa gw harus banyak deket dgn 4JJI SWT. Nah saat itu gw rajin denger pengajian baik untuk remaja maupun untuk umum, gw rajin baca kisah2 dunia agama Islam, tapi gw akui bahwa gw justru makin ga deket dgn Al-Quran… alias jarang ngaji bo!!! Nah saat itulah gw berkenalan dgn dunia NII.

Awalnya, itu berkat usaha gigih temen baik gw (memang baru deket pas saat itu tapi sudah kenal sejak dulu). Dia sering berbagi cerita tentang diri masing, dan akhirnya justru dia tahu masalah, dan depresi gw. Dia juga tahu tentang keinginan gw utk lebih deket ke agama. Nah langkah awal yg dilakukan seorang anggota NII dalam perekuitan tidak semenakutkan yg dibilang orang (saat itu gw belum tahu kalo temen baik gw ini anggota NII, oh iya temen gw ini cewek dan cantik). Bahkan mereka sangat rajin dan tidak takut untuk ikut pengajian resmi yang pasti baik dari ustad-ustadzah terkenal yg bersih di masjid2 besar di kota besar, seperti di masjid kampus, masjid agung di kota tersebut. Ambil contoh gw yg doyan diajak ke pengajian bener di masjid Sunda Kelapa di Menteng di Jakarta. Masjid Sunda Kelapa dijadikan pijakan awal mereka untuk meyakinkan gw bahwa mereka (NII) itu juga Islam bener (alias anggotanya sering ikut pengajian bener di masjid besar). Saat itu gw yakin banget temen gw bener, kita sering diskusi ttg tema pengajian setelah acara selesai. Bayangkan, gw cowok, bisa curhat dan berbagi pandangan ttg tema pengajian dgn temen gw cewek yg cantik pula…. kira2 apa lu ga pada berpikir bahwa dia patut jadi teman hidup???

***

Love

July 11th, 2005 by chodoc

Cinta Yang Berpikir

“Cinta memang urusan hati. Tapi, tak ada cinta sejati tanpa menggunakan akal.”

“Cinta adalah perasaan. Namun cinta sejati tidak akan terbangun tanpa pengetahuan yang utuh terhadap apa yang kita cintai. Tidak ada cinta yang tidak akan roboh oleh perjalanan waktu maupun goncangan keadaan tanpa berpondasikan pada pengetahuan.”

“Cinta itu buta bagi orang yang hanya mendasarkan cinta pada perasaan saja. Cinta adalah pelita bagi orang yang mendasarkan cinta sebagai proses berpikir yang tumbuh kembang sehingga merasuk ke raga dan jiwa kita.”

“Cinta sejati tidak tumbuh dari perasaan saja karena perasaan amat tergantung atas situasi kita saat ini. Cinta sejati akan kekal dengan menumbuhkan pikiran akan cinta kita, yang direalisasikan dengan perbuatan cinta.”

Jara IV

July 9th, 2005 by chodoc

***

Hampir tiap hari aku menghabiskan waktu dengan membaca dan sedikit jalan-jalan. Aku paling senang selagi jalan-jalan sekitar daerah kota di Jakarta. Banyak sekali bangunan tua, sekalipun banyak yang tidak terawat, namun masih tetap dapat memancarkan bayangan kehidupan masa lalu. Aku sangat senang melihat museum Fatahillah, bangunan yang dulu terkenal menakutkan karena di situ juga tempat pelaksanaan hukuman yang ditontonkan kepada masyarakat pada jaman penjajah Belanda. Mungkin semua itu akan membosankan jika aku tidak ditemani Jara. Jara, yang beralasan akan melihat dan meninjau bangunan-bangunan di kota untuk dijadikan inspirasi di kuliahnya yang jurusan arsitek itu, namun anehnya dia cuma membaca satu buku terus menerus, tanpa sedikit pun melihat bangunan yang ada. Namun, setiap aku terkagum atau mengkhayal akan bangunan yang ada di depanku, dia lalu menceritakan bacaannya itu. Aku heran, tetapi sepertinya ucapan-ucapan Jara yang merupakan tulisan buku yang sedang dibacanya, melambangkan kondisi dan khayalanku akan bangunan itu sendiri.

Aku melihat bangunan yang bekas toko orang Cina di jaman Belanda, Jara berkata, “ Pedagang, dia menjual kebutuhan orang lain, namun mengapa banyak pedagang yang tidak sekaya si pembeli, padahal dialah penyedia kebutuhan. Apakah kebutuhan pedagang dengan pembeli berbeda? Cina, begitu menakutkan, namun apanya? Negaranya? Penduduknya? Sukunya?  Keturunannya? Budayanya? Cina, sangat menakutkan, karena dapat hidup diberbagai tempat dan mengembangkan serta menguasai. Menarik!!”. Lalu aku melihat stasiun kereta Kota, sangat kolonial, kokoh, besar, dan kumal. Jara berkata, “ Aku bangun kebutuhanmu, aku bangun keinginanmu, aku bangun impianmu, namun kau hancurkan semuanya. Kau hancurkan semuanya. Tapi aku tidak lelah, tidak marah, karena aku telah meninggalkan jejak, bahwa aku lebih mulia dan unggul dari kamu semua… hai bangsa terjajah.” Dan tepat di lapangan depan museum Fatahillah, Jara berkata,”Wahai penerusku, aku bersimpuh luka dan lelah di lapangan ini. Aku pertahankan niatku dan niat pendahulumu, jagalah semuanya wahai penerusku.” dan dia juga berkata,” lapangan ini penuh darah, kira-kira kapan lagi kita bisa mengulang dengan banjir darah lagi, wahai temanku SbS?” Aku heran dan aku abaikan dia…

Aku dan Jara si Nyawa kembali ke kampus. Sepanjang perjalanan dia tertidur pulas, seperti telah mencurahkan semua kekuatannya untuk sekedar lihat-lihat daerah Kota. Aku pun turut terlelap, namun aku bermimpi, aku mimpi aku penguasa Jakarta karena hanya aku yang tersisa, yang lain mati. Mati, meninggal, tewas, wafat, mereka pergi dengan meninggalkan tubuh dimana-mana dan diriku seorang diri. Aku terbangun, dengan berbisik Jara mengucapkan,”Tenang kawan, aku akan menemanimu dalam mimpimu karena yang tersisa cuma kita berdua dan bangkai-bangkai tamak itu.” Aku terperanjat, darimana dia tahu mimpiku, apa aku juga mengigau? Tapi bisikannya itu bukan menakutiku namun justru menyenangkan, karena aku juga berharap akan hancurnya peradaban demi peradaban baru yang lebih baik. Namun apakah itu benar, tidak itu sangat salah, kita tidak boleh menghancurkan. Kita hanya boleh mengurangi dan meluruskan. Jara berkata, “Terimakasih SbS, hari ini sangat menyenangkan.” Aku jawab, “ya, aku juga terima kasih.”

***

Jara III

July 4th, 2005 by chodoc

***

“Hai SbS, aku menemukan buku bagus nih, kapan-kapan aku pinjami ke kamu yah, bukunya banyak bercerita tentang bangunan dan fasilitas manusia, cocok buat kita berdua.”, si Nyawa mengatakan hal itu ketika besok mau ujian akhir di semester 6 ku. Aneh memang, kok bisa makhluk mengerikan itu senang akan buku tentang ilmu bangunan, tapi aku justru penasaran. Malamnya aku sempat berniat untuk melewatkan ujianku besok hari dan berpura-pura sakit sehingga boleh mengikuti ujian susulan saja demi membaca buku barunya si Nyawa, sekalipun akhirnya aku urungkan niat tersebut. Gara-gara Jara, aku bisa gagal ujian.

“ Sbs, kawan baikku, aku khan pernah berjanji akan meminjamkan buku baruku itu, namun dengan satu syarat.” “Apa syaratnya Jara? asal ga disuruh jilat pantat lu, gw siap aja deh” “Hahaha, SbS lucu sekali. Syaratnya adalah temani aku menghabisi jiwa si Radi. Gimana Mau???” “Maksudmu, kita bunuh si Radi??? Atau cuma kita culik dan pukulin si Radi???” “Suad bin Said temanku, jangan pernah mengotori tangan kita dengan darah secara langsung, namun usahakan kotori tangan orang lain dengan ide dari diri kita” “APA??? Jara, maksudmu tanganku yang kau kotorkan???” “Bukan-bukan, tapi tangan si Radi sendiri.” “Ah Jara, jangan bikin aku bingung, lebih baik kau ceritakan langsung semua yang ada di otakmu.” “Oh itu juga tidak bagus, karena aku ingin kau tebak hasil dari perbuatanku. Kira-kira apa yang akan terjadi pada si Radi.” Semua adalah percakapanku dengan si Nyawa, sebelum dia melakukan hal yang sadis pada si Radi. Radi adalah temannya yang sangat populer dan kebetulan aku pun mengenalnya. Anaknya sangat baik, ramah, bahkan terkesan alim dan dia sangat pintar. Namun yang membuatnya populer adalah parasnya yang ganteng dan jantan. Awalnya aku pikir si Nyawa iri, ternyata justru si Nyawa cuma mau tahu apa perubahan yang terjadi jika si Radi terkena musibah yang belum pernah dia pikirkan sebelumnya. Aku kaget, namun aku juga tidak bisa menghentikan si Nyawa, karena aku bukan anak arsitek. Jara memaparkan idenya (namun ide sadisnya pasti tidak dipaparkan) disaat kuliah di jurusannya, arsitek, dan semua orang sepertinya membantu Jara dalam melakukannya.

Yang Jara lakukan adalah, membuat pentas drama dengan tokoh utama Radi. Tentu hal ini disetujui semua orang, siapa lagi yang sanggup menjadi tokoh teladan dalam pentas drama tersebut selain Radi. Jara, membujuk Radi agar mau jadi pemeran utama, dan dialog yang dibuat akan banyak diucapkan oleh Radi, mungkin seperti Monolog. Jara dan beberapa temannya saling berbagi ide untuk menciptakan skenario. Dan pentas drama pun digelar, yang datang adalah hampir satu kampus teknik dan staff pengajar. Dialog demi dialog dikatakan oleh Radi. Isi dialog itu adalah tentang sifat Radi yang memang baik, karena senang berteman, pintar, rendah hati juga populer. Namun perangkap si Jara juga termakan karena diakhir acara, Radi tiba-tiba teriak, “AKU BUKAN DEWA, AKU CUMA MANUSIA BIASA, AKU TIDAK SEMPURNA SEMUANYA CUMA SANDIWARA, SEPERTI PENTAS INI!!! KENAPA KALIAN SEMUA MENGANGGAP AKU HEBAT? APAKAH KELEBIHANKU DARI YANG LAIN? AKU TIDAK PINTAR KARENA MASIH BANYAK YANG LEBIH PINTAR, AKU TIDAK RAMAH KARENA BANYAK YANG JAUH LEBIH RAMAH TERHADAP PENJAHAT SEKALIPUN. AKU TIDAK GANTENG, KARENA BANYAK YANG GANTENG JAUH DARI AKU, AKU TIDAK POPULER KARENA AKTOR DI TV JAUH LEBIH POPULER DARI AKU. KENAPA KALIAN LAKUKAN INI SEMUA PADAKU, AKU HANYA INGIN KULIAH DAN LULUS DAN MENYEMPURNAKAN HIDUP DENGAN BERKELUARGA. KALIAN SEMUA BANGSAAATTT!!! JIJIK AKU. MUAK DAN HANYA PANTAT INI YANG PANTAS KALIAN DAPATKAN!!!” sambil si Radi membuka celananya dan melihatkan pantatnya ke semua orang. Aku langsung melihat si Nyawa, dia hanya melihat dengan dingin namun ada senyum diwajahnya. Dia berhasil merubah si Primadona menjadi Public Enemy No 1. Akhirnya si Radi di skors dan dia mengundurkan diri dari kuliahnya. Sampai aku lulus pun, cerita Radi tetap menggema. Yah akhirnya tetap si Radi populer, namun dengan akhir yang berbeda.

Jara, akhirnya membeberkan rahasianya, yah dia cuma menambahkan kata “dewa dan pangeran” pada dialog teman-teman Radi yang menjadi figuran di pentas drama tersebut. Dia tahu bahwa seseorang yang rendah hati dan alim seperti Radi, justru akan berubah jadi monster jika dia juga populer dan dipuja terlalu banyak dan berlebihan. Itu akan menimbulkan tekanan batin yang sangat tinggi seperti halnya penyelam yang langsung secara cepat berenang kepermukaan, dia akan mati karena pembuluh darah tubuhnya tidak kuat menahan tekanan udara terutama gas nitrogen sehingga pecah. Ya, si Radi pecah dengan teriakannya dan pameran pantatnya itu. Jara telah puas, dan aku pun mendapatkan buku baru si Jara karena aku telah menyaksikan dan menemani si Nyawa dalam merenggut jiwa Radi.

***

Jara II

June 29th, 2005 by chodoc

***

Aku, seperti yang pernah kukatakan dulu, pencinta buku, kutu buku. Aku bahkan berniat mendirikan taman bacaan yang tiada duanya dalam koleksinya. Namun aku juga manusia paling egois, taman bacaan itu tak akan pernah ku persembahkan selain untuk diriku. Yah, untuk diriku, tapi mungkin juga untuk si Nyawa. Karena hanya dia yang mampu memahami rasa egoisku. Entah sejak kapan rasa egoisku akan buku muncul, mungkin ketika aku tahu bahwa banyak temanku yg lain yang meminjam bukuku dan mengembalikan dengan keadaan tidak seperti semula, bungkusnya terlipat bahkan sobek dan bertambal sulam selotip. Hanya dia, ya si Nyawa saja yang mengembalikannya dengan kondisi 120 %. Karena selain kondisi bukunya masih bagus, dia juga menambahkan pengaman serta sekali-kali membelikan diriku buku yang jarang ada bahkan jarang di baca, seperti buku “Pergulatan Guru Desa” yang dikarang entah oleh siapa, buku ini jarang dibaca karena telah dilarang oleh pemerintah Bapak Soeharto, dengan alasan isinya sangat komunis. Sebenarnya buku itu cuma bercerita tentang seorang guru yang bergulat dalam belajar ngaji, karena dia malu kalau orang-orang tahu bahwa gurunya yang selama ini mengajarkan ilmu hitung, ilmu alam dan sosial kepada anak-anak desa, ternyata gagap dalam mengaji. Didesa itu banyak yang mengatakan sangat terbelakang dan bodoh, namun banyak yang diantaranya sangat bagus dalam mengaji bahkan beberapa guru agama Islam terkenal, banyak yang mengatakan bahwa desa tersebut adalah surga karena bacaan Al-Quran yang dilafalkan sangat indah. Aku awalnya aneh akan dilarangnya buku ini, namun akhirnya aku sadar, karena buku ini memang pantas dilarang, biar cepat, rezim Bapak Soeharto bilang itu buku komunis. Padahal buku ini menyiratkan bahwa desa yang sangat indah akan bacaan kitab sucinya, lambat laun akan dapat jadi “neraka” karena ilmu hitung, ilmu alam dan sosial yang diajarkan si guru itu. Para murid dan beberapa orang tua, sudah lama meninggal tradisi membaca atau mengaji Al-Quran. Ini semua karena ketidakcakapan si guru dalam mengaji. Memang, aku tahu semua itu berkat bimbingan si Nyawa. Dia bilang, buku seperti itulah yang pantas mendapatkan putlizer. Aneh…aneh… tapi dalam hati terdalamku juga menyetujuinya.

Buku demi buku aku lahap, sekalipun jarang sekali aku ingat apa yang baru aku baca, tapi aku sangat menyukai indahnya dunia yang bisa aku bayangkan pada saat membaca. Begitu pula dengan si Nyawa, dia sangat menghargai buku, bahkan dia berani puasa lama hanya karena dia menghabiskan uang sakunya untuk membeli 100 buku dalam satu bulan. Eh salah, bukan uang saku, lebih tepatnya semua uang tabungannya. Karena buku-buku tersebut tidak hanya dalam bahasa Indonesia, namun juga berbagai bahasa asing baik yang umum maupun yang tidak umum seperti bahasa Chech. Anehnya si Nyawa sangat paham betul isi buku itu dan menceritakan kepadaku beberapa yang paling favorit, termasuk buku “Psiko-analisis” karangan Dr. Razim Scherbe, PhD, seorang dokter ahli penyakit dalam dan anestesi yang juga seorang psikolog khusus menangani cuci otak yang sangat dipuja dikalangan pendukung Nazi serta Blok Timur. Beliau ini memang bukan hanya bekerja untuk mereka, karena buku itu justru di terbitkan di London tahun 1981. Dan beliau bahkan termasuk tim kesehatan 3 keluarga kerajaan di Eropa yang kental blok Baratnya, termasuk tempat dimana bukunya diterbitkan.

Jara, si Nyawa, bercerita bahwa kita harus sadar, dunia ini tidak lain hanya tempat yang penuh kematian dan cinta yang hambar. Ketika kecil, kita selalu disayang dan dimanja orang tua, namun saat remaja banyak orang tua yang berubah baik sedikit seperti mulai melarang banyak hal kepada anaknya sampai yang terparah adalah meredupkan hidup si anak dengan mencabulinya dengan dalih kasih sayang. Lalu dimana pun, pemerintah selalu berbohong pada rakyatnya, bahkan sarangnya penjahat bukan di lorong-lorong sempit, kelam dan bau namun justru di pemerintah yang terang benderang lah biangnya penjahat. Lalu juga kisah tentang anak haram yang semakin lama semakin bertebaran, baik itu dari para pelacur maupun anak baik-baik yang terjerumus sex bebas. Masyarakat masih memberi cap “haram” pada mereka, padahal tak sedikit penjahat kelas kakap justru berasal dari keluarga “ningrat” yang sejarahnya jauh dari “haram”. Namun tetap, mereka bukan anak “haram” karena lahir secara “halal”. Dan bahkan percobaan-percobaan pada anak-anak haram itu dilakukan dibanyak negara baik blok barat, timur maupun non-blok atau fasis dengan beribu alasan seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Mereka hilang nyawa lahiriah maupun batiniyah.

Dalam buku itu juga diterangkan bagaimana mencuci otak seseorang, namun tanpa melakukan serangkaian uji laboratorium yang mahal, cukup dengan berkata, “Aku sangat memahami mu, aku akan terus disisi mu.” Yah, cukup kita berkedok teman yang baik, maka kita dapat mencuci otak seseorang, baik dari keadaan jahat menjadi baik, ataupun sebaliknya. Bukankah itu yang dilakukan para ulama ketika ada seseorang yang berniat untuk tobat, memang menjadi teman sangat efektif merubah seseorang. Namun semua itu hanya isi suatu buku, namun akan menjadi nyata apabila ada seseorang yang mampu menjalankan itu dan menguasainya sekehendak dia tanpa bisa dijerat oleh hukum pidana dimanapun juga. Dalam hal ini Jara, si Nyawa, salah satu masternya.

Tiap hari dia tidak bosan-bosannya mengkuliahi aku dengan nukilan dari buku tersebut. Bahkan dia berani membandingkan buku itu dengan beberapa kitab suci agama di dunia ini, sekalipun dia juga pernah bilang, “Buku itu belum sempurna dan aku yang akan menyempurnakannya dengan korban-korbanku.” Aku selalu merinding bila dia bicara seperti itu, namun aku juga selalu menantikan apalagi yang akan Jara katakan besok. Sepertinya aku menunggu Iblis memaparkan rencana jahatnya bagi umat manusia.

***

Jara

June 27th, 2005 by chodoc

***

sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan…

***

Tidak terasa, sudah tiga tahun sejak aku lulus pendidikan sarjanaku. Memang aku belum merasakan nikmat atau pahitnya orang kantoran, karena aku hanya hidup di “Jalan”. Aku pernah kerja di kantor baik yang sesuai bidang kuliahku maupun yang tidak. Namun aku akhirnya memilih jalanan sebagai “penghidupan”ku. Semua berjalan lancar, bahkan aku mendapatkan uang yang lebih besar daripada orang yang bekerja di kantoran dengan jujur, tentu yang tidak jujur entah berapa banyak yang dia peroleh, tak terbayangkan. Namun orang tidak jujur pasti akan kehilangan sesuatu yang berharga, sekalipun mereka mendapatkan uang dan pengaruh yang sangat banyak, benar, mereka pasti hilang rasa manusianya. Huh, aku yang hanya hidup di “jalanan” kok bisa berbicara dengan bahasa tinggi. Aku berpikir bahwa ini semua karena dia, ya, dia orang eh salah temanku yang terbaik, namun aku sangat takut akan dirinya. Aku takut karena dalam dirinya ada penjelmaan makhluk yang sangat menakutkan, mungkin inilah yang dinamakan Dajjal.

***

“Hai, kenalkan aku Suad, nama lengkapku Suad Ibrahim, mungkin kalo ditambah nama bapakku, maka Suad Ibrahim bin Said Ibrahim, atau singkatnya SbS, Suad bin Said.”, itulah yang biasa aku ucapkan tiap aku berkenalan, tentunya tidak lupa dengan cengiran bibirku yang mengagumkan (tapi kata orang menjijikan). Dan itulah kata pertamaku kepadanya, teman terbaikku sekaligus makhluk yang paling mengerikan. Temanku itu menjawab, “ Senang berkenalan denganmu SbS, panggil aku Jara. Nama lengkapku Jara Leondro. Nama yang aneh yah…???”. Aku jawab, “ tepat… namamu aneh, dan namaku juga aneh apalagi kalo sudah disingkat, dan boleh khan aku berteman denganmu, yah sesama orang yang bernama aneh…”. “Hahaha… SbS, kamu orang yang sangat riang, aku suka berteman denganmu. Kamu kuliah juga disini? Di bagian apa? Kalo aku kuliah di teknik aku ambil arsitek, kamu?” “ Wah, Jara, sepertinya ucapan dan pertanyaan kali ini adalah rangkaian kata yang terpanjang yang pernah kau ucapkan ke orang yah…??? Abis lihat mukamu yang berubah dari “dingin” menjadi “hangat”. Aneh banget sih kamu… tapi untuk menjawab pertanyaanmu, baiklah, aku kuliah di sipil, hmm… kita ambil jurusan yang sebidang. Eh, kapan-kapan kita ngobrol lagi yah, aku ada kerjaan, biasa tugas menumpuk. Sampai nanti…. Eh, jangan lupa kenalkan aku dengan gadis-gadis arsitek yah… oke, dan keluarkan semuanya.” “Oke, tapi SbS, kamu harus mau jadi teman baikku sekaligus korban pertamaku.” “Apa??? Mana mau aku berkorban demi laki-laki, memangnya homo… sampai nanti Jara…”. Itulah awal aku berteman baik dengan Jara Leondro, atau mungkin lebih baik aku beberkan panggilanku untuknya, Jara si Nyawa. Panggilan ini karena, dia sangat baik dan cakap dalam hal memainkan nyawa orang lain.

***

Aku, menghabiskan banyak waktuku di perpustakaan kampus, toko buku dan taman bacaan serta tidak lupa ditemani teman baikku, si Nyawa. Tiap mengerjakan tugas, kami selalu mengerjakan ditempat-tempat tadi, bahkan dia sangat gila, karena tiap dibuat karyanya, selalu diperpustakaan, yup, dia selalu mengotorinya dengan sisa-sisa potongan karton, lem, dan pewarna mulai dari cat air, crayon, spidol, dan banyak lagi. Tidak heran kalau dia sangat di benci Bu Rahma, pustakawan kampus kami. Tapi dia seperti tidak kapok, untuk dibentak Bu Rahma, bahkan dia selalu membelikan coklat. Memang sih, Bu Rahma tetap marah, tapi sepertinya bentakannya semakin lama semakin kecil volumenya, entah karena diberi coklat atau karena bosan marah dengan si Nyawa. Tapi aku pernah melihat mereka akur, bahkan Bu Rahma menangis dan memegang tangan si Nyawa, mereka saling bercerita, namun entah apa. Aku sangat hobi membaca, bahkan aku pernah memarahi teman wanitaku karena dia bosan menunggu aku mencari buku, rak demi rak. Dan akhirnya aku putus dengannya, memang dia yang memutuskan aku, namun justru aku yang paling berharap putus dengan dia. Akhirnya tiap aku mencari buku, aku hanya ditemani si Nyawa. Mungkin dapat dikatakan inilah pasangan homo yang paling aneh, karena kita cuma dateng ke tempat buku dan bergairah dengan buku tanpa pernah berhubungan sex menyimpang itu. Aku selalu senang dengan ditemani si Nyawa, bahkan aku berharap, jika aku mendapat kekasih, yang seperti si Nyawa tapi dengan jenis kelamin beda dengan si Nyawa tentunya.

Kurasa sudah cukup aku ceritakan sedikit kesanku akan si Nyawa, aku sangat sering berbagi cerita dengannya. Awalnya semua yang normal-normal aja, seperti tentang kuliah, teman, wanita, keluarga, masa depan, dan lainnya. Namun akhirnya dia mulai cerita, tentang makhluk yang bersemayam di dalam dirinya. Aku kaget, karena dia bilang sekaligus memperingatiku , “ SbS, aku pernah melenyapkan nyawa-nyawa teman-temanku apalagi teman baikku, bahkan beberapa saudaraku, tapi sepertinya kamu berbeda, jadi aku tidak akan melenyapkanmu, namun akan memanfaatkan mu untuk jadi tanganku. Oh iya, tapi bukan aku yang membunuh mereka, aku cuma membantu mereka lenyap dari bumi ini.”  Awalnya aku tertawa, akan canda sarkastik dia, tapi dia ulangi kata-katanya itu bahkan dengan tampang yang dingin sekali.

Tapi si Nyawa, tidak pernah terlibat secara fisik maupun menyuruh langsung orang lain untuk membunuh, ya dia lihai memanfaatkan orang, seperti halnya aku yang dimanfaatkannya dalam posisi “buku harian kejahatannya”. Ya, aku diubah menjadi halaman-halaman kosong yang nantinya diisi dengan kegiatan dia hari itu, yang kesemuanya menghasilkan satu nyawa melayang secara fisik maupun secara rohani. Aku tidak bisa lari dari si Nyawa karena, dia juga berperan sebagai buku harianku. Namun setelah dia memutuskan untuk lulus dengan sangat cepat dan mengambil studi magisternya, barulah aku terputus dan lega. Aku lega karena hidupku belum hilang, dan aku berusaha untuk juga menyelamatkan hidup orang lain yang terjerat si Nyawa. Hal ini karena si Nyawa sepertinya bertanggung jawab atas kematian Bu Rahma. Bu Rahma mati bunuh diri di dalam perpustakaan kampus kami, di depan pengunjung perpustakaan dengan membakar serta meledakkan tubuhnya berkeping-keping sambil berteriak, “Jalang!!!”. Semua orang terkejut, pingsan, menangis, takut, tapi hanya satu orang yang hanya bertampang dingin, tidak sedih, bahkan juga tidak senyum seperti pembunuh, si Nyawa hanya diam dan sangat dingin.

***

jatuh cinta

June 23rd, 2005 by chodoc

sakitnya jatuh cinta memang ga ada apa2nya dibanding sakit gigi… gigi gw sakit banget bo!!!…